Sikapi Lonjakan Harga Energi, Kadin Indonesia Tekankan Prinsip Kehati-hatian

by
Harga BBM naik. (Foto: MV)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Lonjakan harga komoditas energi seperti bahan bakar minyak (BBM) dan gas, jelas berpengaruh terhadap biaya produksi dan distribusi. Untuk menyikapinya, Kadin Indonesia menekankan prinsip kehati-hatian dengan tetap memikirkan dampaknya terhadap daya beli masyarakat.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Sarman Simanjorang mengemukakan hal tersebut kepada pers, Selasa (7/4/2026).

Sebagai pengusaha yang tergabung dalam organisasi Kadin Indonesia, Sarman mengemukakan, pelaku usaha menyikapi hal tersebut penuh kehati-hatian dengan memperhatikan kondisi daya beli masyarakat.

Lonjakan harga komoditas energi seperti bahan bakar minyak (BBM) dan gas memiliki pengaruh terhadap biaya produksi dan distribusi. Pasalnya, banyak industri yang masih tergantung pada bahan baku impor, sehingga kenaikan harga BBM memengaruhi harga logistik dan transportasi.

Dalam penilaian Sarman, pelemahan nilai rupiah juga akan berdampak pada harga bahan baku impor, sehingga peningkatan biaya produksi pun menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Dengan kondisi yang ada, pelaku usaha otomatis akan akan menyesuaikan harga produksi akibat kenaikan harga logistik, transportasi dan harga bahan baku dengan kenaikan biaya produksi akan mengerek kenaikan harga di tingkat konsumen.

Satu hal, dengan memperhatikan kondisi daya beli masyarakat dunia saat ini, pelaku usaha masih mencoba mempertahankan harga lama dengan melakukan efisiensi dan margin. Namun, jika berkepanjangan, tentu pelaku usaha tidak akan kuat dan suatu saat akan menaikkan harga produk di tingkat konsumen.

Karena itu, Kadin memandang mitigasi yang penting dilakukan antara lain dengan melakukan inovasi, menekan biaya produksi agar kenaikan di tingkat konsumen tidak naik. Juga mempertimbangkan pengurangan volume, atau ukuran produk demi mempertahankan harga, sehingga tidak memengaruhi daya beli masyarakat.

Yang penting diketahui bahwa daya tahan pelaku usaha ada batasnya, jika berkepanjangan tidak ada pilihan untuk menyesuaikan harga, selain terpaksa menyesuaikan harga produksi.

Yang penting diperhatikan, pemerintah harus senantiasa memastikan ketersediaan BBM dan gas dalam negeri dengan baik. Dengan begitu bisa memastikan tidak ada kenaikan harga, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, dan menjaga daya beli masyarakat dengan berbagai program strategis.

“Pemerintah harus mampu menjaga psikologi pasar dan masyarakat menyikapi dampak geopolitik yang penuh ketidakpastian, sehingga perekonomian kita di berbagai sektor tetap produktif,” kata Sarman Simanjorang.

Yang harus diperhatikan betul, di tingkat pasar harga-harga sudah mulai naik, semisal minyak goreng kemasan di minimarket, dan supermarket. Jika lonjakan harga minyak dunia tidak bisa dicegah, bisa dipastikan harga BBM, dan gas dalam negeri sisa menunggu waktu. (Osc).