Legislator PDI P Desak Pemerintah Ubah Metode Pelatihan Manajer Kopdes Merah Putih

by
Anggota Komisi VI DPR RI, Prof. Dr. Darmadi Durianto. (Foto: Jim)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Sorotan terhadap pelaksanaan pelatihan calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih terus menguat setelah muncul berbagai persoalan selama proses pembekalan.

Di tengah bertambahnya korban meninggal dunia menjadi lima orang, Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Darmadi Durianto, mendesak pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh metode pelatihan yang dinilai tidak selaras dengan kebutuhan pengelola koperasi.

Menurut Darmadi, pembekalan bagi calon manajer koperasi semestinya berfokus pada penguatan kompetensi manajerial dan pengelolaan usaha, bukan menggunakan pendekatan bergaya militer yang dianggap tidak relevan dengan tugas yang akan dijalankan.

“Yang kita cari itu manajer, bukan tentara atau militer. Mereka tidak siap dilatih dengan metode seperti itu. Yang harus diperkuat justru kemampuan manajerialnya,” kata Darmadi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/7/2026).

Ia menilai berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan program tidak terlepas dari perencanaan yang belum matang. Proses perekrutan puluhan ribu calon manajer dalam waktu singkat, menurutnya, membuat sejumlah aspek penting, termasuk kesiapan sistem pelatihan, tidak dipersiapkan secara optimal.

“Permasalahan itu timbul karena tidak well-planning. Perekrutan puluhan ribu manajer dilakukan dalam waktu singkat, sehingga tentu ada dampaknya dan harus menjadi bahan evaluasi,” ujarnya.

Darmadi mengingatkan pemerintah agar tidak mengabaikan risiko apabila metode pelatihan saat ini tetap dipertahankan. Ia meminta evaluasi menyeluruh terhadap kurikulum, silabus, hingga pola pembekalan agar lebih sesuai dengan kebutuhan seorang manajer koperasi.

“Saya pikir harus diubah kurikulum, silabus, atau metode pelatihannya. Fokusnya harus pada kemampuan mengelola usaha, bukan keterampilan militer,” tegasnya.

Menurut dia, calon manajer Kopdes Merah Putih lebih membutuhkan bekal dalam menyusun model bisnis, membaca peluang pasar, mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta membangun strategi pemasaran yang efektif. Kompetensi tersebut dinilai menjadi fondasi utama bagi keberhasilan koperasi dalam menjalankan kegiatan usaha.

“Manajer itu tidak mudah. Harus diuji kemampuan manajerialnya, bagaimana melihat peluang bisnis, mengembangkan UMKM, dan melakukan penetrasi pasar. Itu yang seharusnya menjadi materi utama,” ujar legislator dari Daerah Pemilihan DKI Jakarta III tersebut.

Lebih jauh, Darmadi menegaskan keberhasilan Program Koperasi Desa Merah Putih tidak hanya bergantung pada pembentukan kelembagaan, tetapi juga ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya. Karena itu, menurutnya, pembenahan sistem pelatihan menjadi langkah mendesak agar tujuan program dapat dicapai secara berkelanjutan.

“Kalau manajernya tidak dibekali kemampuan yang sesuai, akan sulit bagi koperasi untuk berkembang. Karena itu, metodologi pelatihannya harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan usaha,” pungkasnya. (Asim