Dukung NZE 2060, PLTA Panglima Besar Soedirman Perkuat Sistem Kelistrikan Nasional

by
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta. (Foto: Petromindo)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, mengatakan pembangkit berbasis energi baru terbarukan memiliki peran strategis, tidak hanya dalam mendukung pengurangan emisi karbon, tetapi juga menjaga keandalan pasokan listrik nasional.

Untuk itu, sambungnya, PLN Indonesia Power akan terus memperkuat keandalan sistem kelistrikan nasional melalui pengoperasian PLTA Panglima Besar Soedirman di Banjarnegara, Jawa Tengah. Pembangkit listrik tenaga air berkapasitas 180 megawatt (MW) tersebut menjadi salah satu aset strategis perusahaan dalam mendukung penyediaan energi bersih sekaligus mempercepat pemulihan sistem kelistrikan saat terjadi gangguan besar.

“PLN Indonesia Power berkomitmen menghadirkan pembangkit yang tidak hanya menghasilkan energi bersih, tetapi juga mampu menjamin keandalan sistem kelistrikan nasional,” kata Bernadus dalam keterangannya, di Jakarta, dimuat Kamis (6/8/2026).

“PLTA Panglima Besar Soedirman merupakan salah satu aset strategis perusahaan yang mencerminkan sinergi antara pemanfaatan energi terbarukan, keunggulan teknologi, dan keandalan operasional untuk mendukung transisi energi Indonesia menuju Net Zero Emission (NZE) 2060,” tambahnya.

Ia juga mengatakan bahwa PLTA yang memanfaatkan aliran air dari Bendungan Mrica itu merupakan bagian dari sistem interkoneksi Jawa-Bali. Selain memasok listrik dari energi baru terbarukan (EBT), pembangkit ini memiliki kemampuan black start, yakni mampu melakukan penyalaan sistem kelistrikan secara mandiri tanpa bergantung pada pasokan listrik dari jaringan utama.

Kemampuan tersebut, kata dia, memungkinkan PLTA Panglima Besar Soedirman menjadi sumber tegangan awal untuk menghidupkan kembali sistem kelistrikan dan pembangkit lain secara bertahap apabila terjadi pemadaman total (blackout).

PLTA Panglima Besar Soedirman memiliki tiga unit pembangkit dengan kapasitas masing-masing 60 MW. Keberadaannya dinilai berkontribusi dalam menjaga kontinuitas pasokan listrik di sistem Jawa-Bali sekaligus mendukung target pemerintah mencapai Net Zero Emission (NZE) 2060.

Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Mrica, Wasis Jati Waskitho, mengatakan pembangkit tersebut memegang peranan penting dalam menjaga ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan sumber energi air yang ramah lingkungan.

Menurutnya, kemampuan black start menjadi salah satu keunggulan utama yang dimiliki pembangkit karena dapat mempercepat proses pemulihan jaringan listrik setelah terjadi gangguan sistem berskala besar.

“PLTA Panglima Besar Soedirman memanfaatkan potensi energi air sebagai sumber energi baru terbarukan yang mendukung upaya pencapaian Net Zero Emission 2060,” sebutnya.

“Kemampuan black start yang dimiliki pembangkit ini menjadi bagian penting dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan Jawa-Bali, khususnya saat diperlukan pemulihan sistem pasca gangguan,” papar Wasis.

Ia juga menambahkan, PLN Indonesia Power akan terus mengoptimalkan pengelolaan Bendungan Mrica dan operasional pembangkit melalui penerapan standar keselamatan, keandalan, dan keberlanjutan agar mampu menyediakan pasokan listrik yang stabil sekaligus mendukung pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia.

“Optimalisasi tersebut diharapkan semakin memperkuat sistem ketenagalistrikan nasional yang tangguh, efisien, dan rendah emisi, sejalan dengan agenda transisi energi pemerintah menuju target Net Zero Emission 2060,” pungkasnya. (Kds)