Kebijakan Gubernur NTT Batasi IPP Berhasil Hambat Inflasi Pada Januari 2026

by
Statistik terkait Indeks Harga Konsumen (IHK) di NTT. (ist)

BERITABUANA.CO, KUPANG – Kebijakan Gubernur NTT terkait membatasi Iuran Pengembangan Pendidikan (IPP) sebesar Rp 100.000 untuk Sekolah Menengah Atas (SMA), berhasil menghambat Inflasi pada Januari 2026.

“Pembatasan IPP ini tertuang dalam Pergub nomor 53 Tahun 2025,” tegas Ketua Tim Statistik Distribusi, Putu Dita Pickupana, saat jumpa pers virtual, Senin (2/2/2026).

Dijelaskan Putu Dita, dengan membatasi IPP sebesar Rp100.000 tersebut, sehingga beberapa SMA Negeri menurunkan Biaya SPP nya.

“Selain iuran siswa SMA sebesar -0,12 persen berhasil Hambat Inflasi, juga
angkutan udara sebesar -0,07 persen, ikan tembang sebesar -0,06 persen, sawi hijau sebesar -0,02 persen dan telur ayam ras sebesar -0,02 persen,” rinci Putu Dita.

Diakui Putu Dita, komoditas yang mendorong inflasi pada bulan ini secara dominan adalah, kenaikan harga cabe rawit, emas perhiasan, tomat, kangkung dan bawang merah, yang terjadi hampir di seluruh wilayah cakupan IHK

“Selain itu adanya kenaikan harga pada beberapa komoditas ikan, juga mendorong inflasi pada Bulan Januari ini,” tambah Putu Dita.

Lebih lanjut dia menjelaskan, Inflasi Y-on-Y pada Januari 2026 sebesar 3,34 persen, atau mengalami kenaikan dibandingkan Desember 2025, dengan inflasi Y-on-Y sebesar 2,39 persen.

“Inflasi Y-on-Y Januari 2026 terjadi, karena kenaikan 9 dari 11 kelompok pengeluaran,” papar Putu Dita.

Dijelaskan Putu Dita, kelompok pengeluaran dengan andil Inflasi W-on-W Januari 2026, tertinggi adalah kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,71 persen, diikuti oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan Andil 1,16 persen.

“Andil inflasi W-on-W lainnya terjadi pada kelompok pendidikan sebesar -0,08 persen, dan kelompok informasi komunikasi dan jasa keuangan dengan andil -0,04 persen,” ungkap dia.

Dikatakan Putu Dita, komoditas tarif listrik memberikan andil tertinggi sebesar 1,70 persen, sedangkan komoditas emas perhiasan memberikan andil inflasi terbesar kedua yaitu sebesar 1,03 persen.

“Komoditas lainnya yang mendorong inflasi W-on-W adalah beras, bawang merah dan daging babi,” kata Putu Dita.

Komoditas yang dominan menghambat inflasi W-on-W januari 2026, tambahnya, adalah tomat dengan andil sebesar -0,16 persen, sawi hijau dengan Andil sebesar -0,15 persen, ikan tembang dengan andil sebesar -0,13 persen, Sekolah Menengah Atas sebesar 0,10 persen dan angkutan udara sebesar 0,07 persen. (iir)