Atasi Pelemahan Nilai Tukar Rupiah, Analis Ini Sarankan Bank Sentral Naikkan BI Rate

by
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. FOTO: InvestorDaily.

BERITABUANA.CO – JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, mengisyaratkan perlunya Bank Indonesia (BI) mendorong kenaikan suku bunga acuan yang masih dipertahankan di level 4,75 persen. Kenaikan BI Rate, dalam penilaian Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi perlu untuk menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Ibrahim memprediksi kurs rupiah berpotensi tembus hingga Rp18.000 per dolar AS pada Mei 2026. Jika itu terjadi, bukan tidak mungkin mata uang Indonesia bakal kembali menciptakan rekor-rekor baru lainnya.

Data yang ada menunjukkan kurs rupiah, Jumat (15/5/2026), Rp17.600, jauh dari pada yang dipatok dalam APBN 2026 Rp16.500, sekaligus rekor baru dalam sejarah Indonesia. Kondisi rupiah di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini, menumbangkan rekor pada 1998, menjelang kejatuhan Presiden  Soeharto, saat itu Rp16.800.

“Dalam perdagangan Mei ini kemungkinan besar kurs Rp18.000 akan tembus. Seandainya Rp18.000 tembus di bulan Mei ini, ada kemungkinan besar rupiah akan menembus level Rp22.000,” ujar Ibrahim, Sabtu (16/5/2026), seperti dikutip dari Antara.

Satu-satunya cara untuk menstabilkan kurs rupiah adalah dengan menaikan suku bunga acuan, antara 25-50 basis poin (bps) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia berikutnya.

Ibrahim mengaku kondisi saat ini sangat sulit bagi Bank Indonesia apakah tetap mempertahankan atau menaikkan suku bunga. “Ada kemungkinan besar dalam pertemuan nanti bank sentral menaikan suku bunga acuan. Tujuannya, untuk menstabilkan mata uang rupiah.”

Rupiah memang harus melewati ujian yang sangat berat di libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 2026 ini. Mulai dari bank sentral AS, The Fed yang berganti kepemimpinan hingga tensi geopolitik di Timur Tengah.

Kepemimpinan The Federal Reserve (the Fed) beralih dari Jerome Powell ke tangan Kevin Warsh. Sosok baru tersebut diprediksi bakal mempertahankan suku bunga acuan, imbas adanya kenaikan harga minyak yang berdampak terhadap inflasi.

“Ini yang mengindikasikan bahwa mempertahankan suku bunga lebih tinggi lagi akan berdampak terhadap penguatan indeks dolar. Apalagi dibarengi dengan perang dagang nanti,” kata Ibrahim. (OSC).