BERITABUANA.CO, JAKARTA — Anggota Komisi IV DPR RI Robert J. Kardinal mendorong pemerintah segera membangun program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di sejumlah wilayah terluar Papua. Program tersebut dinilai strategis untuk menghidupkan kembali kejayaan industri perikanan Papua sekaligus memperkuat pertahanan kawasan perbatasan Indonesia di Pasifik.
Menurut Robert, Papua memiliki potensi perikanan tangkap yang sangat besar, terutama untuk komoditas tuna sirip kuning atau yellowfin tuna. Namun hingga kini, potensi tersebut dinilai belum dikelola secara optimal melalui program nasional sektor kelautan dan perikanan.
Ia menyebut terdapat tiga kawasan prioritas yang layak menjadi lokasi pembangunan KNMP, yakni Distrik Kepulauan Ayau di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya; Kepulauan Auri di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat; serta wilayah perairan Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Supiori, Papua.
“Wilayah-wilayah ini harus menjadi prioritas Kampung Nelayan Merah Putih karena memiliki potensi ikan yang sangat besar dan dapat menjadi motor kebangkitan industri perikanan di kawasan timur Indonesia,” kata Robert di Jakarta, Minggu (17/5/2026).
Pulau Terluar Dinilai Strategis
Robert menilai pembangunan KNMP di kawasan tersebut bukan hanya untuk meningkatkan produksi dan hilirisasi perikanan, tetapi juga memperkuat kehadiran negara di pulau-pulau terluar Papua.
Ia mencontohkan Pulau Mapia di Supiori yang secara geografis lebih dekat ke negara Palau dibanding pusat pemerintahan di Papua. Menurutnya, kondisi tersebut menjadikan pembangunan kampung nelayan di kawasan terluar sebagai bagian dari strategi menjaga kedaulatan wilayah.
“Pulau-pulau terluar itu harus menjadi titik penguatan ekonomi sekaligus simbol kehadiran negara. Kampung Nelayan Merah Putih penting agar masyarakat nelayan menjadi bagian dari pertahanan wilayah,” ujarnya.
Selain tuna, kawasan perairan Papua disebut menyimpan potensi besar untuk komoditas lain seperti cakalang, kerapu, rumput laut, hingga teripang. Sebagian besar masyarakat pesisir di wilayah tersebut juga menggantungkan hidup pada sektor kelautan dan perikanan.
Kenang Kejayaan Industri Perikanan Papua
Robert juga menyinggung sejarah kejayaan industri perikanan Papua pada era 1990-an hingga awal 2000-an. Salah satunya melalui operasional PT Biak Mina Jaya yang berada di bawah Jayanti Group.
Perusahaan tersebut, kata dia, pernah menjadi salah satu pusat industri pengalengan ikan terbesar di Indonesia timur dan menyerap ribuan tenaga kerja asli Papua. Saat itu, aktivitas perikanan didukung ribuan rumpon yang tersebar di perairan Papua.
Selain itu, Robert mengungkap keberadaan PT Usaha Mina di Sorong yang pernah mengekspor tuna dan cakalang langsung ke Jepang. Menurutnya, fasilitas dan infrastruktur peninggalan industri tersebut masih memiliki potensi untuk diaktifkan kembali melalui sinergi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Kementerian BUMN.
“Papua pernah memiliki industri perikanan besar. Ini menunjukkan bahwa Papua bisa menjadi kekuatan utama industri perikanan nasional jika dikelola serius,” katanya.
Ia juga menyinggung keberadaan PT West Irian Fisheries (WIF), perusahaan perikanan asal Jepang yang sempat menjadi penggerak ekonomi di Sorong sejak 1970-an sebelum operasionalnya berhenti akibat kebijakan pembatasan kapal asing.
Soroti Ancaman Illegal Fishing
Di sisi lain, Robert mengingatkan lemahnya pengawasan di wilayah perairan terluar Papua berpotensi memicu maraknya praktik illegal fishing. Ia mengaku menemukan sejumlah kapal tanpa izin yang terdampar di Distrik Kepulauan Ayau, Raja Ampat.
Menurut dia, keterbatasan armada patroli Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) membuat pengawasan di kawasan perbatasan belum optimal.
Karena itu, ia mengusulkan agar pemerintah menempatkan basis kapal pengawasan permanen yang terintegrasi dengan program KNMP di pulau-pulau terluar Papua.
“Kampung Nelayan Merah Putih bukan hanya meningkatkan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi benteng perlindungan sumber daya laut dari pencurian ikan,” ujarnya.
Papua Belum Tersentuh Program KNMP
Robert mengatakan optimismenya sejalan dengan target pemerintah melalui KKP yang berencana membangun lebih dari 1.000 Kampung Nelayan Merah Putih pada 2026 sebagai bagian dari penguatan ekosistem perikanan nasional dari hulu hingga hilir.
Namun, ia menyoroti fakta bahwa hingga kini belum ada satu pun lokasi KNMP yang dibangun di Papua, padahal wilayah tersebut memiliki potensi perikanan terbesar di Indonesia timur.
“Papua punya laut yang kaya, sejarah industri perikanan yang kuat, dan posisi strategis di Pasifik. Jika program ini masuk ke Raja Ampat, Teluk Wondama, dan Biak Numfor-Supiori, Papua bisa kembali menjadi lumbung tuna terbesar di kawasan timur Indonesia,” kata Robert. (Kds)







