BERITABUANA.CO, JAKARTA –Pengamat Pasar Modal Teguh Hidayat menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat impresif dan tangguh menghadapi ancaman resesi.
Terlebih, sambung dia, jika dibandingkan dengan negara negara Eropa yang mengalami krisis energi akibat perang Rusia-Ukraina.
“Kita diuntungkan karena krisis energi. Kita eksportir batubara. Di Indonesia kita diuntungkan nilai ekspor, neraca perdagangan surplus, alhasil pertumbuhan ekonomi kuat, dan rupiah kuat terhadap dollar,” kata Teguh, Rabu (12/10/2022).
Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan fundamental perekonomian Indonesia mampu memperlihatkan kinerja yang tetap impresif. Faktor eksternal dan internal menopang pertumbuhan ekonomi ditengah krisis global.
Ia mengatakan, kuatnya perekonomian Indonesia antara lain ditopang domestic market. Sekarang konsumsi turut menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi pada 2023 diprediksi antara 4,8-5,2 persen.
Ketua Umum Partai Golkar itu pu menuturkan nilai tukar rupiah memang mencatatkan depresiasi hingga 6 persen. Namun, hal itu masih lebih kuat dibandingkan pelemahan mata uang negara-negara lain.
Teguh mendukung hal itu.“Memang rupiah turun juga terhadap dollar, tetapi dibandingkan mata uang lain pelemahan kita tidak parah. Jika dibandingkan pound turunnya sampai 50 persen, Euro 30 persen, kita cuma 6 persen,”ujarnya.
Salah satu faktornya adalah Bank Indonesia (BI) yang belum agresif menaikkan suku bunga acuan, jika dibandingkan Amerika maupun Eropa. BI menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi dan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Dikatakan Teguh keuntungan Indonesia dari komoditas, termasuk sektor energi membuat Indonesia tangguh di tengah tantangan global. Kemudian kondisi pasar saham juga disebut Teguh masih menarik.
“Secara fundamental tidak masalah kalau IHSG turun, karena dihitung dari awal 2022 kita masih naik 5-6 persen, sedangkan yang lain seperti Thailand Singapura sudah minus,”paparnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengungkapkan perekonomian Indonesia masih bisa bertahan untuk saat ini. Meski demikian, Yose mengingatkan kondisi ke depan akan semakin berat.
Menurutnya, saat ini pemerintah masih bisa menahan kenaikan harga barang, sehingga inflasi masih terjaga.
“Kondisi akan lebih sulit ke depan karena penerimaan pemerintah dari ekspor komoditas seperti mineral dan kelapa sawit akan mengalami penurunan. Hal itu akan membuat pemerintah harus mengurangi subsidi,” pungkasnya.(JAT)







