Harga Minyak Dunia Turun Usai Damai AS-Iran, Sarmuji: Manfaatkan Momentum Perkuat Fiskal dan Ekonomi

by
Sekjen Partai Golkar, Muhammad Sarmuji. (Foto: Ist)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran membawa angin segar bagi pasar energi global. Penurunan harga minyak dunia yang terjadi setelah tercapainya kesepakatan damai kedua negara dinilai menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat kondisi fiskal, menjaga stabilitas ekonomi, serta mempercepat pemulihan sektor-sektor produktif yang selama ini terdampak gejolak global.

Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI, Muhammad Sarmuji, mengatakan pemerintah perlu bergerak cepat memanfaatkan momentum tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Menurut Sarmuji, perubahan situasi geopolitik telah memberikan sentimen positif terhadap pasar energi internasional. Harga minyak mentah Brent tercatat turun hampir 4 persen menjadi 83,92 dolar AS per barel pada perdagangan Senin (15/6/2026) pagi, dari posisi 87,33 dolar AS per barel pada penutupan perdagangan sebelumnya.

“Ini momentum yang tidak boleh disia-siakan. Pemerintah harus bergerak cepat dan terukur untuk mengonversi perdamaian ini menjadi manfaat nyata bagi rakyat Indonesia,” kata Sarmuji dalam keterangannya, Selasa (17/6/2026).

Sarmuji menilai langkah pertama yang perlu dilakukan pemerintah adalah memperbaiki kondisi fiskal melalui evaluasi dan penyesuaian subsidi energi secara bertahap seiring dengan normalisasi harga minyak global.

Ia menjelaskan, penurunan harga minyak berpotensi mengurangi tekanan terhadap anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM), sehingga membuka ruang fiskal yang lebih luas bagi pemerintah.

Menurut Sekretaris Jenderal Partai Golkar itu, anggaran yang sebelumnya digunakan untuk menutup lonjakan subsidi energi dapat dialihkan ke sektor yang lebih produktif dan memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

“Anggaran yang sebelumnya terpaksa dialokasikan untuk menutup pembengkakan subsidi dapat difokuskan pada sektor strategis dan prioritas yang manfaatnya lebih langsung dirasakan rakyat,” ujarnya.

Sektor infrastruktur, pendidikan, kesehatan, hingga program perlindungan sosial disebut sebagai bidang yang berpotensi memperoleh tambahan dukungan anggaran apabila beban subsidi energi menurun.

Inflasi Berpotensi Terkendali

Selain memberikan ruang bagi penguatan fiskal, Sarmuji menilai meredanya ketegangan geopolitik global juga dapat menurunkan premi risiko di pasar internasional.

Kondisi tersebut diyakini akan membuat biaya impor minyak dan gas menjadi lebih efisien. Dampaknya, biaya produksi dalam negeri berpotensi menurun sehingga membantu menekan laju inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.

Menurutnya, stabilitas harga energi menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Normalisasi Selat Hormuz Jadi Kabar Baik bagi Dunia Usaha

Sarmuji juga menyoroti pentingnya normalisasi aktivitas perdagangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama konflik menjadi salah satu titik paling rawan bagi distribusi energi dunia.

Ia menilai terbukanya kembali jalur perdagangan tersebut akan memperlancar rantai pasok ekspor-impor global sekaligus menurunkan biaya logistik internasional yang selama ini menjadi beban bagi pelaku usaha.

“Kelancaran distribusi energi dan barang melalui Selat Hormuz akan memberikan efek positif bagi aktivitas perdagangan dunia, termasuk Indonesia,” katanya.

Dorong Ekspor Nonmigas ke Timur Tengah
Dalam situasi yang lebih kondusif, Fraksi Golkar juga mendorong pemerintah untuk memperluas pasar ekspor nonmigas ke kawasan Timur Tengah.

Sarmuji menilai terbukanya peluang kerja sama ekonomi dengan Iran dan negara-negara lain di kawasan tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekspor produk pertanian dan manufaktur Indonesia.

Menurutnya, negara-negara yang terdampak konflik akan membutuhkan berbagai komoditas dan produk industri dalam fase pemulihan ekonomi, sehingga menjadi peluang pasar yang potensial bagi pelaku usaha nasional.

Diplomasi Dinilai Menang atas Konflik

Sarmuji menyambut positif tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi oleh Pakistan bersama sejumlah negara lain, termasuk Turki, Qatar, dan Arab Saudi.

Ia menilai kesepakatan tersebut menjadi bukti bahwa diplomasi tetap merupakan jalan terbaik dalam menyelesaikan konflik internasional.

“Ini membuktikan jalur diplomasi, sekalipun sulit dan berliku, selalu lebih bermartabat daripada perang,” tegasnya.

Momentum Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Meski menyambut baik terciptanya perdamaian, Sarmuji mengingatkan pemerintah agar tidak mengabaikan pelajaran penting dari krisis yang terjadi selama konflik berlangsung.

Menurutnya, gangguan distribusi energi di Selat Hormuz menunjukkan bahwa Indonesia masih rentan terhadap gejolak geopolitik global, terutama dalam sektor energi.

Karena itu, ia mendorong percepatan diversifikasi sumber energi, peningkatan cadangan strategis nasional, serta perluasan kerja sama dengan berbagai negara pemasok agar Indonesia tidak bergantung pada satu kawasan tertentu.

“Perdamaian ini tidak menghapus kerentanan itu. Justru sekarang adalah waktu yang tepat untuk membangun ketahanan energi yang sesungguhnya,” ujar Sarmuji.

Ia berharap kesepakatan damai AS-Iran tidak hanya menjadi penghentian konflik sementara, tetapi juga menjadi fondasi bagi stabilitas kawasan Timur Tengah yang lebih berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi bagi Indonesia maupun dunia.

“Golkar berharap kesepakatan ini menjadi titik awal rekonstruksi kawasan yang lebih stabil, adil, dan damai, bukan sekadar gencatan senjata di atas kertas,” tuturnya. (Asim)