BERITABUANA.CO, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengidentifikasi bahwa tingginya permintaan dolar Amerika Serikat, dan kenaikan harga minyak menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp17.700.
“Faktor global juga sangat mempengaruhi, dan selama bulan ibadah haji ini kan demand terhadap dolar juga tinggi,” kata Airlangga Hartarto kepada wartawan, di kantornya, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Kebutuhan dolar AS meningkat pada periode saat ini seiring aktivitas pembayaran dividen perusahaan setelah musim laporan keuangan tahunan. Hal itu diperparah dengan kenaikan harga minyak global imbas dari konflik perang yang dipicu serangan Amerika dan Israel terhadap Iran.
Kombinasi tingginya permintaan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia menjadi tekanan eksternal yang kuat terhadap pergerakan rupiah.
“Sesudah laporan keuangan, pembayaran dividen itu kebanyakan juga di bulan-bulan ini. Jadi memang demand-nya sedang tinggi. Plus harga minyak masih naik,” jelas mantan Ketua Umum Partai Golkar tersebut.
Menko Airlangga berharap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa kembali menguat di semester II 2026. “Mudah-mudahan semester II bisa lebih baik lagi.”
Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Selasa melemah 38 poin atau 0,22 persen menjadi Rp17.706 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.668.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai pelemahan rupiah turut dipengaruhi tren kenaikan harga minyak dunia yang masih berada di atas 100 dolar AS per barel.
Selain itu, pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor domestik menanti hasil RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) yang diumumkan Rabu (20/5/2026). Juga oleh ruang fiskal yang masih terbatas akibat subsidi membengkak seiring tren kenaikan harga minyak dunia. (OSC).







