Ekonomi Indonesia Dinilai Akan Pulih Bertahap, Kang Dahlan Ajak Masyarakat Tetap Optimistis dengan Prabowo

by
Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan. (Foto: Dok. Pribadi)

BERITABUANA.CO, JAKARTA — Di tengah meningkatnya kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional dan prospek pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Konsultan Keuangan sekaligus Pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, mengajak publik untuk tetap optimistis dan tidak terburu-buru menilai kinerja pemerintahan yang baru berjalan.

Menurut pria yang akrab disapa Kang Dahlan itu, berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini merupakan bagian dari dinamika global yang juga dirasakan banyak negara. Karena itu, masyarakat diharapkan dapat melihat kondisi perekonomian secara lebih objektif dan memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjalankan program-program strategis yang telah direncanakan.

“Pesimisme yang berkembang di tengah masyarakat harus disikapi dengan bijak. Pemerintahan Presiden Prabowo masih dalam tahap awal menjalankan berbagai agenda pembangunan. Dibutuhkan waktu agar kebijakan yang disusun dapat memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” kata Kang Dahlan di Jakarta, Jumat.

Kang Dahlan menilai fundamental ekonomi Indonesia sejatinya masih cukup kuat. Hal itu terlihat dari kemampuan pemerintah menjaga stabilitas sektor keuangan, inflasi yang relatif terkendali, serta masih terjaganya aktivitas investasi di sejumlah sektor strategis.

Ia mengatakan, tantangan seperti perlambatan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, hingga fluktuasi nilai tukar memang berpengaruh terhadap sentimen masyarakat dan pelaku usaha. Namun kondisi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi domestik yang sesungguhnya.

“Tak bisa dipungkiri, setiap pergantian pemerintahan selalu diiringi ekspektasi tinggi dari masyarakat. Ketika hasil yang diharapkan belum terlihat dalam waktu singkat, muncul keraguan dan pesimisme. Padahal pembangunan ekonomi membutuhkan proses yang tidak instan,” ujarnya.

Menurutnya, sejumlah program pemerintah yang berorientasi pada peningkatan daya beli masyarakat, pembangunan infrastruktur, hilirisasi industri, serta penguatan ketahanan pangan berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah dan panjang.

Kepercayaan Publik Faktor Penting

Kang Dahlan juga mengingatkan bahwa kepercayaan publik merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Jika masyarakat dan pelaku usaha terlalu larut dalam sentimen negatif, hal tersebut dapat memengaruhi aktivitas konsumsi dan investasi yang menjadi motor penggerak perekonomian nasional.

“Optimisme bukan berarti menutup mata terhadap tantangan. Optimisme adalah keyakinan bahwa tantangan dapat diatasi melalui kerja keras, kolaborasi, dan kebijakan yang tepat. Karena itu saya mengajak masyarakat untuk tetap percaya terhadap proses yang sedang berjalan,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat perlu berjalan beriringan dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang ada. Dengan dukungan seluruh elemen bangsa, stabilitas ekonomi nasional diyakini dapat terjaga dan secara bertahap mengalami perbaikan.

Ajak Masyarakat Fokus pada Peluang

Kang Dahlan menilai masyarakat perlu lebih fokus pada peluang ekonomi yang masih terbuka dibandingkan hanya memperbesar kekhawatiran terhadap kondisi saat ini. Menurutnya, Indonesia memiliki pasar domestik yang besar, bonus demografi, serta sumber daya alam yang mampu menjadi modal penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.

“Jangan sampai pesimisme membuat kita kehilangan momentum. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Saya yakin di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, perekonomian nasional akan bergerak menuju kondisi yang lebih stabil secara bertahap. Masyarakat perlu memberikan kesempatan agar program-program pemerintah dapat berjalan dan menunjukkan hasilnya,” ujar Kang Dahlan.

Latar Belakang Munculnya Pesimisme Masyarakat

Meski optimisme terhadap perekonomian nasional terus disuarakan sejumlah kalangan, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian masyarakat masih menyimpan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi saat ini. Sentimen pesimistis tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari meningkatnya biaya hidup, tekanan terhadap daya beli masyarakat, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor industri, hingga ketidakpastian ekonomi global yang berdampak pada aktivitas usaha dan investasi.

Selain itu, pelemahan sektor manufaktur di beberapa wilayah, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia turut memengaruhi persepsi publik terhadap prospek ekonomi nasional. Di sisi lain, ekspektasi masyarakat yang tinggi terhadap pemerintahan baru membuat sebagian pihak berharap adanya perubahan yang cepat terhadap kondisi ekonomi, sehingga ketika hasil yang diharapkan belum dirasakan secara langsung, muncul keraguan dan sikap pesimistis.

Fenomena tersebut juga diperkuat oleh derasnya arus informasi di media sosial yang kerap menyoroti berbagai tantangan ekonomi tanpa disertai gambaran utuh mengenai indikator-indikator ekonomi yang masih menunjukkan ketahanan. Kondisi ini kemudian membentuk persepsi negatif di sebagian masyarakat, meskipun sejumlah indikator makroekonomi nasional masih berada dalam kondisi yang relatif stabil.

Namun demikian, Kang Dahlan menilai pesimisme tersebut sebaiknya tidak berkembang menjadi ketidakpercayaan yang berlebihan. Menurutnya, pemerintah membutuhkan waktu untuk merealisasikan berbagai program strategis yang telah dirancang. Ia meyakini bahwa dengan kebijakan yang tepat, dukungan dunia usaha, serta partisipasi aktif masyarakat, perekonomian Indonesia memiliki peluang besar untuk kembali tumbuh lebih kuat dan stabil dalam beberapa tahun ke depan.

“Saya berharap masyarakat tetap menjaga kepercayaan terhadap perekonomian nasional, meningkatkan produktivitas, serta memanfaatkan peluang investasi dan usaha yang tersedia. Optimisme yang disertai kerja nyata akan menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menghadapi tantangan ekonomi global dan mewujudkan pertumbuhan yang berkelanjutan,” pungkasnya. (Ery)