Seni: Rasa yang Ditangkap Indera?

by
Brigjen Pol. CDL

APA yg ditangkap oleh indera berkaitan dg rasa walau berbeda antara satu dengan lainnya. Yg ditangkap mata berbeda dg yg ditangkap telinga akan berbeda juga yg ditangkap indera-indera lainnya. Namun semua itu tetap rasa, namun semua itu ada rasa. Hanya tergantung seberapa besar rasa itu mempengaruhi indera yg menangkapnya.

Mewujudkan rasa dlm nada rupa suara sastra dan gerak memerlukan kepiawaian dan totalitas para pembuatnya.

Totalitas dpt ditemukan dr penghayatan dan kecintaan dr olah rasa itu sendiri. Kepekaan atas getar2 rasa ini bagai stimuli indera untuk mampu menangkap rasa tadi.

Mungkin tak ada konsep yg tepat untuk menjelaskan bs ratusan bahkan ribuan ungkapan walau prinsipnya sama, yaitu seni merupakan rasa yg ditangkap indera.

Apakah hanya sebatas ditangkap? Tentu tidak. Indera setelah menangkap akan mengolah dan memproses kembali menjadi sesuatu yg baru yg mungkin saja berbeda satu dg lainnya bahkan bs juga bertentangan atau mempertentangkannya.

Pengaruh atas indera yg berdampak pd penghayatan atau penelusuran yg mendalam inilah kekuatan dari suatu karya seni.

Si pembuatnya atau sang seniman bisa saja tidak menyadari atas karyanya. Ia berkarya dg menghayati dan mencintai pekerjaannya. Bisa saja apa yg dilakukannya dg pendekatan baru atau cara yg berbeda dg pandangan orang kebanyakkan. Pemikiran liarnya bs menginspirasi atau mempelopori atas sesuatu yg baru.

Menjabarkan seni akan juga membahas rasa. Rasa dapat berbeda dg pikiran. Menciptakan suatu karya seni seringkali dikatakan menggila sbg bentuk melepaskan rasa dari bernagai belenggu norma etika aturan shg ada totalitas dlm berkarya.

*Brigjen Pol. CDL* – (Direktur Keamanan dan Keselamatan Korlantas Polri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *