Trump  Mulai  Abaikan  Israel!

by
Sabpri Piliang. (Foto: Dok)

DONALD TRUMP Abaikan Israel! Juga mengabaikan kelompok garis keras Partai Republik! Kesepakatan penghentian perang hampir tercapai, AS siap mencairkan miliaran dana Iran.

Ventilasi  menuju akhir konflik AS-Iran, telah terbuka. Siapa yang akan berpredikat menang pertempuran, tapi kalah di peperangan? Atau, sebaliknya? Tunggu keputusan resmi.

Kekukuhan Iran, enggan mengubah draf-nya membuat AS putus asa. Indikator pernyataan Menlu AS Marco Rubio, pihaknya tengah menghadapi sekelompok orang yang sangat sulit, satu sinyal. Perang, atau damai Iran siap.

“Time Of Israel”, media terkemuka Israel (22 Mei 2026)  menyebut, Presiden AS, Donald Trump semakin frustrasi bernegosiasi dengan Iran. Paradigma yang berubah-ubah, hari ini mendukung diplomasi, di lain narasi akan menyerang Iran. Indikasi “frustrasi”!

AS pada dasarnya, sudah tak ingin berperang. Sementara Iran, secara implisit terserah kepada AS. Mau perang lagi, silahkan serang duluan. Bila ingin berhenti, ikuti syarat dan kemauan Iran.

Titik buntunya, AS ingin Iran mengikuti “design” dan arsitektur  negosiasi Trump. Sementara Iran, ingin negosiasi normatif yaitu: cabut sanksi, tak ada ekspor uranium, ganti rugi perang karena AS yang menyerang duluan,  Iran tidak pernah memulainya.

Rumit bagi Trump, karena Iran sudah tidak takut diancam. Sementara, konsekuensi yang berulangkali dikemukakan Trump, dianggap “angin lalu”, Iran tak peduli. Anggap saja “argument clinic” dengan beragam  kata.  Trump sungguh frustrasi dan putus asa.

Pikiran, dan kepercayaan diri Trump sangat terganggu terhadap, bagaimana cara mengakhiri konflik AS-Iran.  Tidak menghadiri pernikahan putra sulungnya Donald Trump Jr dengan Bettina Anderson,  akhir pekan ini, menandai kecamuk teramat sangat batinnya.

Trump akan tetap berada di Washington, di Gedung Putih, sementara pernikahan Don Jr-Anderson berlangsung di Bahama. Waktunya sangat tidak tepat bagi Trump untuk datang, ke pernikahan anak kandungnya. ” Saya ada urusan dengan Iran” kata Trump (Time Of Israel).

Seserius itukah Iran bagi Trump, sehingga acara sedemikian penting tak bisa dihadiri? “Ada urusan dengan Iran”, memperlihatkan begitu kuatkah Iran, di tengah kematian banyak pemimpin, sanksi, dan blokir finansialnya.

Mengubah opini lama, Trump sebagai sosok yang ditakuti (setelah serangan 28 Pebruari). Ke opini baru,  Trump mulai mengkhawatirkan kekuatan Iran, memberi tanda terjadi ‘inferiority’ AS terhadap perlawanan Iran.

Kekuatan ego, lewat diksi: “waktu Iran tinggal sedikit”, “kembali ke zaman batu”, “pergi ke neraka”, dilanda skeptisisme karena terus diduplikasi tanpa eksekusi.

Apa yang menjadi asumsi Trump,  mulai dirundung keraguan inklusif. Sesumbar dan keangkuhan Trump,  mudah “menelan” Iran, jadi ruang hampa yang sepertinya tidak akan terjadi lagi. Serangan 28 Pebruari (2026) adalah pelajaran Trump, terhadap empiris 1979.

Penasehat diplomatik senior untuk Uni Emirat Arab (UEA), Anwar Gargash seperti mengkonfirmasi hal ini. Gargash mengatakan, Iran mungkin terlalu banyak bernegosiasi dan melebih-lebihkan kekuatannya.  Peluang kesepakatan terkait Selat Hormuz  maksimal hanya 50:50, katanya.

Dunia dibuat sibuk oleh Iran, setelah AS gagal membuat Iran menyerah cepat. Mendagri Pakistan berangkat ke Teheran, PM Pakistan terbang ke Beijing, Pejabat tinggi Qatar juga  ke Teheran. Asumsi Anwar Gargash bisa jadi betul, Iran kini merasa dibutuhkan dan kuat.

Spektrum yang berkembang, mengapa Iran  “mempermainkan” AS tentang solusi, hingga Selat Hormuz bisa normal kembali? Moral hazard (niat buruk) AS yang dipengaruhi Israel, ingin terus ada opsi serangan AS kepada Iran di masa datang. Sementara Iran menguncinya.

Mengunci? Iran menekankan, pihaknya akan menunda semua pembicaraan tentang program nuklirnya (Selat Hormuz), dengan terlebih dahulu ada jaminan penghentian permusuhan dan kekerasan secara permanen dari AS.

Opsi ini, membuat AS terkunci oleh Israel yang tetap menginginkan Iran berada dalam “zero” kekuatan. Israel tak ingin Iran menghalanginya, menjadi pemain utama geopolitik di kawasan Teluk yang tinggal selangkah lagi.

*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co