BERITABUANA.CO, JAKARTA- Sudah tujuh tahun berlalu. Jabatan sudah berganti, kota sudah ditinggalkan, tapi nama Arsal Sahban ternyata tidak ikut pergi dari ingatan warga Lumajang.
Itulah yang membuat Kombes Pol. Dr. Muhammad Arsal Sahban, S.H., S.I.K., M.M., M.H. terkejut ketika namanya muncul sebagai salah satu kandidat Hoegeng Awards 2026. Bukan karena diusulkan institusinya, tapi karena warga Lumajang dari berbagai penjuru, secara sukarela, mencalonkan mantan Kapolres mereka yang sudah lama pergi itu.
Kini, Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026 resmi menetapkan Arsal Sahban sebagai satu dari tiga besar kandidat kategori Polisi Berintegritas. Kategori yang oleh para juri sendiri disebut sebagai yang paling sulit, paling berlapis verifikasinya, dan paling bergengsi dalam ajang ini.
Standar Paling Tinggi
Tidak semua kategori dalam Hoegeng Awards diperlakukan sama. Para Dewan Pakar secara terbuka mengakui bahwa menentukan Polisi Berintegritas adalah proses yang paling rumit dibandingkan kategori lainnya.
Rujukan utama ajang ini adalah sosok Jenderal Hoegeng Iman Santoso, tokoh polisi yang dikenang sepanjang masa karena kesederhanaan dan integritasnya yang tak tergoyahkan.
Para juri sepakat: menilai seorang polisi berintegritas tidak bisa hanya bersandar pada satu atau dua peristiwa. Rekam jejak harus ditelusuri secara menyeluruh dan berlapis mulai dari kewajaran laporan keuangan LHKPN, ada tidaknya konflik kepentingan dalam pelaksanaan tugas, gaya hidup, hingga konfirmasi silang dari berbagai sumber independen.
Kategori ini, menurut para juri, akan menjadi wajah utama Polri di hadapan masyarakat.
Lumajang yang Dulu Dikenal Kota Begal
November 2018, Kombes Pol. M. Arsal Sahban tiba di Lumajang sebagai Kapolres baru. Lumajang kala itu sudah terlanjur dikenal luas di Jawa Timur sebagai ‘kota begal’. Angka kriminalitas tinggi, kepercayaan masyarakat pada aparat rendah, dan ketakutan berkendara malam hari sudah menjadi bagian keseharian warga.
Arsal bergerak cepat. Ia membentuk unit khusus yang ia beri nama Tim Cobra dengan fokus pada tiga masalah utama: begal, pencurian sapi, dan tambang pasir ilegal. Tidak lama, nama Tim Cobra menjadi momok bagi para pelaku kejahatan di seluruh kabupaten.
Dani, warga Lumajang bagian selatan mengatakan “Masalah begal ditindak langsung beneran. Orang luar kalau dengar Lumajang, dengarnya ya kota begal. itu langsung menurun datanya,” ujarnya.
Arsal pernah secara terbuka menyatakan siap menghadiahkan gaji satu bulannya bagi siapa pun yang membantu menangkap begal atau maling sapi. Janji itu ia tepati ketika seorang warga desa berhasil menggagalkan pencurian sapi milik tetangganya.
Saat ada laporan kehilangan sapi, ia tidak menunggu siang — pagi-pagi buta, anggota Satreskrim sudah menyisir kebun tebu dengan drone, dipimpin langsung oleh Arsal Sahban.
Data berbicara lebih keras dari kata-kata. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) tentang jumlah kejahatan yang dilaporkan di wilayah Polres Jawa Timur, angka kriminalitas Kabupaten Lumajang mencatat titik terendahnya tepat di tahun 2019 saat diriny menjabat. Dan ketika ia pergi, angka itu merangkak naik, lalu melonjak drastis.
Rata-rata sebelum menjabat (2016–2018): 525 kasus/tahun
• Saat Arsal menjabat (2019): 312 kasus
• Penyelesaian kasus: 88,46%
• Setelah pindah tugas (2022): 1.378 kasus
• Naik 341% dibanding 2019
Sumber data: Badan Pusat Statistik (BPS) — Jumlah Kejahatan yang Dilaporkan Kepolisian Resort Wilayah Jawa Timur, 2016–2022. Kabupaten Lumajang.
Menolak Dua Koper
Di balik ketegasan itu, ada sesuatu yang lebih menentukan: integritas yang tidak bisa dibeli.
Hasran, mantan Katim Cobra dan juga kasat Reskrim lumajang saat itu, yang kini berprofesi sebagai pengacara dan memberi nama firma hukumnya Hasran Cobra & Partners sebagai kebanggaan atas warisan Tim Cobra memberikan kesaksian
“Bapak Arsal dikenal oleh masyarakat sebagai Komandan Cobra. Sepak terjangnya luar biasa dan tidak pandang bulu. Beberapa kali ada yang menawarkan sesuatu untuk melancarkan kasus, tapi saat saya sampaikan ke beliau, beliau tolak. Bahkan pernah ada yang tawarkan sampai dua koper. Kalau masalah integritas, tidak diragukan lagi,” ujar Hasran Cobra.
Dosen Lektor dan Pemikir Strategis
Di luar tugasnya sebagai perwira aktif, Arsal Sahban menjalani kehidupan akademik yang serius. Ia adalah dosen tetap STIK-PTIK dengan pangkat akademik Lektor gelar yang diakui dan dikeluarkan secara resmi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Ini bukan sekadar jabatan fungsional internal; ini pengakuan negara atas kapasitas keilmuannya.
Sebagai akademisi, ia tidak berhenti belajar. Pada Desember 2025, Arsal Sahban menyelesaikan pendidikan kepemimpinan tertinggi Polri di Sespimti bukan sebagai pengajar, melainkan sebagai peserta didik dan hasilnya luar biasa. (Muhammad Umar Fadloli)







