Masyarakat Tak Sabar Ditengah Ancaman Covid-19

by
Adilsyah Lubis, pegiat anti korupsi.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Hingga saat ini pembatasan sosial berskala besar(PSBB) masih berlaku di DKI Jakarta dan di wilayah penyanggah ibukota lainnya. Namun, beberapa hari terakhir, terutama menjelang hari raya idul Fitri, suasana di sejumlah ruas jalan sudah semakin ramai, lalu lintas terlihat padat karena banyaknya kendaraan bermotor yang melintas. Pusat perbelanjaan pun terpantau penuh sesak oleh masyarakat yang hendak berbelanja kebutuhan sehari-hari termasuk keperluan untuk merayakan hari raya lebaran.

Menurut pengamat sosial dan perkotaan Adilsyah Lubis, aktivitas masyarakat yang yang sudah ramai ditengah wabah pendemi Covid-19 menunjukkan sikap dan kesadaran masyarakat pada umumnya masih rendah atas keselamatan dan perlindungan kesehatan. Masyarakat seolah abai dengan himbauan dan aturan yang sudah dibuat pemerintah untuk menahan diri tidak keluar dari rumah kecuali memang urusan penting dan mendesak.

“Kalau menurut saya, mereka yang sudah kembali beraktivitas ini seperti tidak bisa menahan emosi dan tidak sabaran,” kata Adilsyah yang dihubungi beritabuana.co, Kamis (21/5/2020).

Dia melanjutkan, sikap sebagian masyarakat yang sudah melakukan aktivitas ditengah masih adanya ancaman penularan virus corona, justru berpotensi membahayakan dirinya sendiri dan juga membahayakan masyarakat sekitarnya.

“Memang memprihatinkan sekali, penularan virus korona begitu cepat apabila tidak menerapkan sosial distancing, phisical distancing. Pemerintah sudah berkali-kali menyampaikan resikonya,” kata Adilsyah.

Menurut dia, hal ini bisa saja karena kurangnya kesadaran masyarakat. Sosialisasi mengenai bahaya Covid-19 memang sudah sangat sering disampaikan oleh pemerintah termasuk para pakar kesehatan.

“Sayangnya, masyarakat masih ada acuh tak acuh menghadapi wabah ini,” ucapnya.

Mengenai pelaksanaan sholat Idul Fitri pada hari raya Idul Fitri nanti, Adilsyah menyatakan, sebagai anggota masyarakat seyoginya taat dengan himbauan atau ketetapan pemerintah. Apalagi sudah ada fatwa dari MUI yang memperkuat ketetapan pemerintah bahwa sah hukumnya sholat Idul Fitri dirumah beserta keluarga tanpa adanya khotbah.

“Ini semua bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid 19. Jadi sebaiknya ikuti lah peraturan dan himbauan ini,” imbuhnya.

Memang katanya menambahkan, ada sedikit kelonggaran dari aturan pemerintah dengan mengizinkan sholat Idul Fitri terutama pada daerah-daerah yang aman dari wabah Covid-19, tetapi tetap dengan syarat ywng ditentukan pemerintah.

“Hal ini cukup mengakomodasikan kehendak anggota masyarakat,” ujarnya. (Asim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *