Disusun oleh: Dede Suryati, Tia Anisa Rahman, Siti Rusmi, Arlyanti Tri Vena Haria dan Favian Haldis Alana
(Mahasiswa Program Studi Manajemen S1, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang)
PENGGUNAAN sistem parkir otomatis kini semakin banyak diterapkan di berbagai pusat perbelanjaan dan area publik sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi pelayanan serta transparansi pengelolaan parkir. Namun, di balik kemudahan tersebut, masih terdapat sejumlah kendala teknis yang dapat menghambat operasional dan memengaruhi kenyamanan pelanggan.
Hasil wawancara dengan petugas gate parkir di Living Plaza Pamulang menunjukkan bahwa gangguan jaringan internet menjadi masalah yang paling sering terjadi dalam operasional sistem parkir otomatis. Ketika koneksi internet mengalami gangguan atau bahkan terputus, sistem parkir menjadi lambat sehingga sensor kendaraan terkadang tidak dapat membaca kendaraan secara optimal.
“Kalau jaringan internet terganggu, sistem biasanya delay. Sensor kendaraan kadang tidak terbaca dengan baik karena semua perangkat saling terhubung,” ujar Adi, petugas gate parkir Living Plaza Pamulang.
Sistem parkir otomatis bekerja dengan menghubungkan sensor kendaraan, sistem pembayaran, komputer operasional, serta palang parkir secara real-time. Gangguan pada salah satu komponen dapat memengaruhi seluruh proses pelayanan parkir.
Selain gangguan jaringan, pihak pengelola juga menghadapi kendala teknis lain, seperti kerusakan motherboard komputer, gangguan jaringan LAN, hingga kesalahan pembacaan sensor kendaraan. Dalam beberapa kasus, kendaraan roda dua dapat terbaca sebagai mobil ataupun sebaliknya sehingga berpotensi menimbulkan kesalahan tarif parkir.
Gangguan sistem tersebut turut berdampak langsung pada pengguna layanan parkir. Ketika terjadi error atau delay, antrean kendaraan menjadi lebih panjang dan pelanggan harus menunggu lebih lama untuk masuk maupun keluar area parkir.
Untuk mengurangi keluhan pelanggan, pengelola parkir menerapkan kebijakan toleransi tarif saat terjadi gangguan sistem. Pelanggan yang seharusnya dikenakan biaya parkir selama dua hingga tiga jam terkadang hanya dikenakan tarif satu jam pertama sebagai bentuk kompensasi pelayanan. Namun, pelanggan yang kehilangan tiket parkir tetap dikenakan denda sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam upaya meminimalkan risiko operasional, pihak pengelola telah melakukan sejumlah langkah pengendalian. Salah satunya dengan mengubah sistem jalur kendaraan dari satu jalur masuk dan dua jalur keluar menjadi satu jalur masuk dan satu jalur keluar agar pengawasan lebih mudah dilakukan. Selain itu, penyesuaian pada sistem sensor kendaraan juga terus dilakukan guna mengurangi kesalahan pembacaan kendaraan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya manajemen risiko untuk menjaga stabilitas operasional dan kualitas pelayanan kepada pelanggan. Penggunaan teknologi dalam sistem parkir dinilai sangat membantu perusahaan dalam mendukung operasional yang lebih modern dan efisien. Namun, perusahaan juga perlu terus melakukan evaluasi dan pemeliharaan sistem secara berkala agar risiko gangguan dapat diminimalkan.
Dengan penerapan manajemen risiko yang baik, sistem parkir otomatis diharapkan dapat berjalan lebih optimal, memberikan pelayanan yang lebih cepat, serta menjaga kenyamanan dan kepercayaan pelanggan terhadap layanan parkir modern. ***







