BERITABUANA.CO, MADINAH– Ingin mengenal lebih dekat dengan Nabi Muhammad SAW, Jemaah haji maupun umrah bisa langsung datang ke Museum Internasional Biografi Nabi Muhammad ‘The International Fair and Museum of the Prophet’s Biography and Islamic Civilization’ yang lokasinya berada di akses pintu 306 sampai 307 Masjid Nabawi.
Museum Biografi Nabi Muhammad tersebut menjadi ruang pembelajaran sejarah yang menghadirkan kisah Rasulullah melalui teknologi interaktif. Visual yang dihadirkan menggunakan teknologi virtual reality.
“Museum ini khusus membahas kehidupan Nabi Muhammad SAW. Pengunjung akan dipandu untuk belajar tentang kehidupan Rasulullah dan juga tentang Madinah pada masa beliau,” kata Pemandu Museum Biografi Nabi Muhammad dan Peradaban Islam, Muhammad Adz Dzahabie saat memberikan penjelasan kepada wartawan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) 2026, Kamis (7/5/2026).
Ia mengatakan museum tersebut berada di bawah naungan Liga Muslim Dunia atau Muslim World League. Museum ini dirancang dengan dua bagian utama.
Bagian pertama menampilkan biografi Nabi Muhammad SAW, mulai dari kehidupan keluarga Rasul, ciri-ciri fisik beliau, pakaian, alat-alat perlngkapan rumah tangga, obat-obatan alami, hingga beragam kehidupannya. Lalu, bagian kedua mengangkat suasana Kota Madinah pada masa Rasulullah, termasuk visualisasi Masjid Nabawi dan kamar Rasulullah SAW.
“Anda nanti akan dipandu untuk belajar bersama tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW dan bagaimana kondisi Kota Madinah di masa Rasul,” ucapnya.
Pengunjung juga diajak masuk ke ruang-ruang pamer yang dilengkapi layar interaktif, replika tiga dimensi, dan perangkat visual modern. Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah teknologi “magic box” yang menampilkan gambaran perabotan dan suasana kehidupan pada masa Rasulullah.
Visual Rumah Rasulullah
Sementara itu, Kamar Rasulullah divisualisasikan virtual reality. Dimana, pengunjung seolah hadir dalam ruangan.
Dalam visual tersebut, dijelaskan detail mulai ukuran rumah, atap, pintu, tempat air, hingga makam Rasulullah yang berada dalam satu tempat dengan para sahabatnya seperti Abu Bakar Ashidiq dan Umar bin Khatab.
Tak hanya itu, ada juga replika Masjid Nabawi ketika pertama kali dibangun, lengkap dengan pilar-pilar batang pohon dan atap dari pelepah daun kurma.
Yang juga bikin haru soal mimbar Rasulullah, yang diceritakan membuat iri batang kurma yang selama ini menjadi sandaran Rasulullah saat khutbah dan menjadi imam.
“Di sini ada berbagai layar interaktif untuk memperkenalkan sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW dengan berbagai tema. Ada juga bagian yang menggambarkan Madinah di masa Rasul, Masjid Nabawi, dan kamar Rasulullah SAW,” katanya.
Museum ini juga menyediakan layanan pemanduan dalam sejumlah bahasa, seperti Arab, Inggris, Indonesia, Urdu, Turki, Rusia, dan Prancis.
Untuk pengunjung berbahasa Indonesia, layanan tersedia setiap hari kerja dengan jadwal tertentu. “Khusus layanan museum bahasa Indonesia, dibuka pukul 08.00 pagi sampai ba’da Asar, hari Ahad sampai Kamis. Jumat mulai ba’da Jumatan, Sabtu mulai ba’da Asar,” jelasnya.
Referensi Al Qur’an dan Hadist
Adz Dzahabie menyebut museum ini lahir dari kajian panjang para peneliti yang telah dimulai sekitar 20 tahun lalu. Referensi utama yang digunakan dalam penyusunan materi museum berasal dari Alquran dan Hadis.
Selain itu juga ada catatan para peneliti yang menelaah kehidupan Nabi Muhammad SAW secara mendalam. “Tujuan didirikannya museum ini adalah mengenalkan kembali kehidupan Nabi Muhammad SAW, yang menjadi teladan bagi umat Islam dan seluruh umat manusia,” ujarnya.
Selain di Madinah, museum serupa juga dikembangkan di sejumlah negara lain, termasuk Makkah, Maroko, dan Senegal. Kehadiran cabang-cabang itu menunjukkan upaya memperluas edukasi sejarah Islam kepada masyarakat internasional melalui pendekatan yang lebih modern dan mudah dipahami.
Ia menambahkan, museum ini menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah sosok manusia paling ideal yang diutus Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Karena itu, umat Islam dianjurkan mempelajari perjalanan hidup beliau agar dapat meneladani sikap, akhlak, dan kepemimpinannya dalam kehidupan sehari-hari. “Sebagai umat muslim, kita perlu mempelajari kehidupan Rasulullah SAW agar bisa meniru jejak beliau dan menjadi pribadi yang lebih baik,” tuturnya.
Tarif 40-70 Riyal
Museum ini dibuka dalam beberapa sesi kunjungan dengan tarif tiket 40 riyal (setara Rp 180 ribu) untuk bagian museum lantai satu dan 70 riyal (setara Rp Rp 315 ribu) untuk paket lengkap dua lantai museum. Tiket dapat dipesan melalui kantor di lokasi atau melalui situs resmi museum.
Di tengah kekhusyukan Madinah, museum ini menjadi ruang napak tilas yang menghubungkan pengunjung dengan kehidupan Rasulullah SAW secara lebih dekat, visual, dan informatif. (Muhammad Umar Fadloli/MCH 2026)








