Capai Usia 103 Tahun, Mbah Mardi: Kuncinya Selalu Gembira dan Senang

by
Kepala Daker Madinah, Khalilurrahman Saat Menyambut Kedatangan Jemaah Tertua Berumur 103 Tahun, Mbah Mardi Jiyono Karto Sentono di Madinah. FOTO: MCH 2026

BERITABUANA.CO, MADINAH – Di tengah ribuan jemaah haji gelombang pertama yang memadati Kota Madinah, terselip satu sosok yang mencuri perhatian. Ia adalah Mardi Jiyono Karto Sentono, warga Karanganom Sitimulyo Piyungan Bantul.

Di usianya yang telah menyentuh 103 tahun, pria kelahiran 1923 ini tercatat sebagai jemaah haji tertua dalam rombongan gelombang pertama tahun ini.

Meski kulitnya keriput dimakan usia, semangat Mbah Mardi seolah tak pernah padam. Luar biasanya, di usia lebih satu abad ini, ia masih menunjukkan kemandirian yang mengagumkan.

Misalnya, untuk urusan mandi, berjalan, hingga melaksanakan ibadah harian, ia melakukannya sendiri tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan orang lain. Meskipun untuk berjalan tetap harus menggunakan alat bantu berupa kruk. Untuk salat juga harus dilakukan sembari duduk.

Namun begitu, ia tetap saja terlihat masih cukup segar untuk usianya yang sudah satu abad lebih. Apalagi, perjalanan panjang dari tanah air menuju tanah suci seakan tidak terlihat begitu melelahkan baginya.

Saat ditanya mengenai rahasia kebugaran dan panjang umurnya, mantan petani ini memberikan jawaban yang sederhana namun mendalam. Baginya, kunci utama adalah pengelolaan hati.

“Kuncinya selalu merasa gembira. Apa pun yang terjadi dalam hidup, dihadapi dengan hati yang senang,” ungkap Mbah Mardi dengan raut wajah yang tampak mantap dan bahagia.

Keteguhan hatinya pun diuji saat ia harus berangkat ke Tanah Suci seorang diri. Sedianya, ia berencana menunaikan ibadah haji bersama sang istri. Namun, takdir berkata lain, sang istri telah lebih dulu dipanggil Allah SWT.

Meski raga sang istri tak lagi mendampingi, niat kakek yang memiliki delapan orang anak ini tidak goyah untuk menuntaskan rukun Islam kelima ini.

Keteguhan niat Mbah Mardi ini memancing rasa haru dari pihak penyelenggara. Dalam menjalankan ibadah, ia bakal didampingi oleh petugas atau pendamping dari KBIHU serta petugas daerah.

Kepala Daerah Kerja (Dakker) Madinah Khalilurrahman, mengaku sangat tersentuh melihat semangat kakek asal Bantul tersebut.

Di usia yang sangat lanjut, semangat beliau menjadi contoh nyata keteguhan niat seorang hamba. Ini adalah inspirasi bagi kita semua,” ujarnya.

Sebagai bentuk perlindungan, Khalilurrahman telah menginstruksikan secara khusus kepada petugas PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) untuk memberikan pendampingan penuh selama di Tanah Suci. Dirinya juga akan memastikan kondisi kesehatan terpantau secara berkala.

“Tanggung jawab kita, semua petugas haji, ialah melayani mereka yang butuh pendampingan. Termasuk kepada semua jemaah haji Indonesia agar ibadahnya berjalan lancar, aman dan nyaman. Kembali ke tanah air dalam keadaan sehat dan haji yang mabrur,” tutupnya. (Fadloli/MCH 2026).