BERITABUANA.CO, JAKARTA – Imbas perang di Timur Tengah, harga minyak dunia kembali menembus USD100 per barel, setelah sempat turun ke level sekitar USD86 per barel. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merespons lonjakan harga minyak dunia itu, dengan memastikan belum ada rencana menaikkan harga BBM, dan LPG, setidaknya sampai selepas Idul Fitri 1447 Hijriah.
Dalam keterangannya seperti dikutip Jumat (13/3/2026), Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaiman mengatakan pemerintah masih terus memantau dinamika pergerakan harga minyak global yang dinilai sangat fluktuatif.
Harga minyak dunia sempat mengalami kenaikan cukup tinggi, namun kemudian kembali mengalami penurunan setelah muncul pembicaraan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
“Pembicaraan antara Trump dan Putin menyebabkan harga minyak turun lagi. Dinamika ini masih menjadi perhatian, tapi yang paling penting dari pemerintah sampai saat ini belum ada rencana untuk menaikkan harga BBM,” kata Laode Sulaiman kepada pers, di Kawasan Kilang Balongan.
Mencermati perkembangan yang ada, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sempat meminta masyarakat tidak melakukan panic buying BBM di tengah ketidakpastian global akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Pemerintah memastikan pasokan energi tetap aman dan harga BBM maupun LPG tidak akan mengalami kenaikan hingga Lebaran 2026.
Menteri Bahlil membeberkan bahwa pemerintah telah membahas kondisi energi nasional dalam rapat terbatas bersama Presiden. Dalam rapat tersebut diputuskan tidak ada kenaikan harga BBM dalam waktu dekat.
Sesuai instruksi Presiden, Bahlil mengatakan pemerintah akan hadir dengan menambah anggaran subsidi agar tidak terjadi kenaikan harga. Dalam APBN, asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dipatok sebesar USD70 per barel, sedangkan saat ini harga minyak telah mencapai sekitar USD100. (Osc).







