BERITABUANA.CO, JAKARTA — Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, masyarakat diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan, terutama terkait penggunaan pinjaman online (pinjol) untuk memenuhi kebutuhan konsumtif musiman. Lonjakan belanja selama Ramadhan dinilai kerap menjadi pintu masuk jeratan utang berbiaya tinggi.
Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, mengatakan Ramadhan sering kali menjadi periode meningkatnya tekanan finansial rumah tangga, mulai dari kebutuhan pangan, persiapan ibadah, hingga kewajiban sosial. Namun, ia menegaskan bahwa pinjol bukan solusi yang tepat untuk menutup kebutuhan tersebut.
“Pinjaman online pada dasarnya adalah instrumen pembiayaan berbiaya tinggi. Jika digunakan untuk konsumsi Ramadhan tanpa perhitungan arus kas yang jelas, risikonya sangat besar terhadap stabilitas keuangan rumah tangga,” ujar Asep Dahlan, Jumat (29/1/2026).
Pria yang akrab disapa Kang Dahlan itu menilai, secara struktural pinjol tidak dirancang untuk menopang kebutuhan konsumtif jangka pendek. Tanpa perencanaan keuangan yang disiplin, penggunaan pinjol justru berpotensi menciptakan ketidakseimbangan arus kas yang berkepanjangan.
Ia menambahkan, lonjakan pengeluaran selama Ramadhan seharusnya direspons melalui penyesuaian anggaran dan penentuan prioritas belanja, bukan dengan menambah liabilitas baru yang disertai bunga harian atau mingguan.
“Utang konsumtif hanya memindahkan tekanan hari ini menjadi masalah keuangan yang lebih besar setelah Lebaran,” kata dia.
Lonjakan Konsumsi dan Risiko Siklus Utang
Asep menjelaskan, meningkatnya kebutuhan menjelang Ramadhan kerap dimanfaatkan oleh layanan pinjol melalui promosi kemudahan pencairan dana, tanpa agunan, dan proses instan. Di balik kemudahan tersebut, terdapat beban bunga dan denda yang berpotensi menggerus pendapatan bulanan secara signifikan.
Dalam praktiknya, tidak sedikit masyarakat yang akhirnya mengambil pinjaman baru untuk menutup utang lama. Kondisi ini menciptakan siklus utang yang sulit diputus dan dapat mengganggu kesehatan keuangan keluarga hingga berbulan-bulan setelah Ramadhan berakhir.
Alternatif Pengelolaan Keuangan Selama Ramadhan
Untuk menghindari risiko tersebut, Kang Dahlan mendorong masyarakat menerapkan langkah pengelolaan keuangan yang sederhana dan realistis. Salah satunya dengan menyusun anggaran khusus Ramadhan yang difokuskan pada kebutuhan pokok dan aktivitas ibadah.
Selain itu, ia menyarankan menunda pengeluaran non-esensial, termasuk belanja impulsif dan konsumsi berlebihan. Optimalisasi sumber dana yang tersedia, seperti tabungan dan penghasilan rutin, juga dinilai lebih aman dibandingkan mengambil utang berbunga tinggi.
“Mencari tambahan penghasilan sementara jauh lebih sehat dibandingkan menambah utang. Berutang seharusnya menjadi opsi terakhir dan hanya dilakukan melalui lembaga resmi, dengan perhitungan risiko yang matang serta tujuan yang produktif,” ujarnya lagi.
Menjaga Ketenangan Beribadah
Di akhir pernyataannya, Asep menekankan bahwa Ramadhan bukan sekadar periode peningkatan aktivitas ekonomi, melainkan momentum membangun disiplin, pengendalian diri, dan ketenangan batin, termasuk dalam pengelolaan keuangan.
“Ramadhan mengajarkan hidup secukupnya dan mengendalikan keinginan. Ketika ibadah dijalani dengan beban utang yang tidak perlu, ketenangan justru hilang,” tutur dia.
Menurutnya, kehati-hatian dalam berutang juga merupakan bagian dari nilai moral dan spiritual. “Jangan sampai niat beribadah terganggu oleh kecemasan karena cicilan dan penagihan. Kesederhanaan adalah kunci agar Ramadhan benar-benar membawa keberkahan,” kata Kang Dahlan.
Ia berharap, dengan pendekatan rasional dan berlandaskan nilai, masyarakat dapat menjalani Ramadhan 1447 H tanpa tekanan utang serta menjaga kesehatan keuangan keluarga hingga setelah Lebaran. (Ery)







