Warning KPAI, Waspadai Ancaman Kekerasan Seksual Pada Anak!

by
Retno KPAI
Komisioner KPAI, Retno Listyarti. (Foto: Jimmy)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti menyinggung soal anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan yang rentan mengalami kekerasan seksual. Kekosongan aturan di Kementerian Agama (Kemnag) harus menjadi momentum memperbaiki sistem pengawasan, kontrol maupun sistem pencegahan.

“Sejauh ini aturan yang sama di Kementerian Pendidikan terkait sistem pencegahan, pengaduan, penanganan bahkan penindakan belum ada yang diterbitkan Kementerian Agama. Sebab soal pendidikan ini, Kementerian Agama juga ikut memegangnya,” ungkap Retno Listyarti berbicara dalam Diskusi 4 Pilar MPR RI dengan tema ‘Mendorong Keberpihakan Negara Dalam Perlindungan Anak’ di Media Center Gedung Nusantara III Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (13/12/2021).

Retno menyatakan, kekerasan seksual saat ini sudah biadab oleh predator seksual, sehingga upaya pencegahan bisa dilakukan dengan melapor kejadiannya. “Melapor itu bisa dimana-mana, plangnya harus dipasang di setiap satuan pendidikan, bahwa bisa mengadu ke KPAI berikut nomornya atau KPAD atau ke Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,” ujarnya seraya menambahkan, kalau ada sistem pengaduan yang kuat, ada sistem pengawasan yang kuat, maka akan memberikan perlindungan terhadap anak.

Disarankan pentingnya pengawasan berlapis dan sistem kontrol untuk melindungi anak-anak. Pasalnya, kekerasan berbasis agama sering terjadi ,apalagi sekolah yang berasrama.

Pada kesempatan itu, Retno membeberkan sejumlah kasus pelecehan seksual, perundungan dan intoleransi dibeberapa daerah yang ditangani KPAI. Dari hasil pengawasan KPAI tahun 2018 dan 2019, ada 72% terjadi kekerasan fisik di sekolah. Kekerasan fisik ada 9 %, sedangkan kekerasan seksual itu memang tidak 2% , tentu saja karena kalau kekerasan seksual mungkin lebih diadukan kepada kepolisian dibanding kepada KPAI, karena itu sudah masuk ranah pidana.

Dari data yang dimiliki KPAI, tahun 2018 korban itu justru mayoritas anak laki-laki, seperti di Kabupaten Tangerang, ada seorang guru olahraga melakukan sodomi terhadap 41 siswa, dengan modus memberikan kesaktian dan ilmu pelet kepada anak-anaknya.

Lalu kasus di Jombang, ada 25 siswi menjadi korban guru bahasa Indonesia di sekolah itu dan ini modusnya ruqyah, anak itu dinyatakan ada jin di tubuhnya, lalu ditawari di ruqyah, dan ruqyah harus pulang sekolah dan situasinya sepi. Tetapi menurut Retno, ada seorang anak yang menolak dengan mengatakan tidak ada jin ditubuhnya. Dia selamat karena kabur dan mencari pertolongan untuk lepas dari si pelaku.

Retno juga menceritakan kasus di sebuah SD di Surabaya dengan jumlah korban mencapai 65 siswa dan terjadi selama 3 tahun. Di Jakarta juga pernah terjadi tahun 2018 yaitu 16 siswa dan itu jumlahnya kalau kita hitung, maka jumlah antara laki-laki dengan perempuan, itu jumlahnya lebih banyak anak laki-laki pada tahun 2018, angka itu dari 65 + 41 + 16 jadi lebih dari 120 adalah laki-laki sementara di data KPAI kasus perempuan itu hanya di Jombang 25 dengan kasus di Cimahi waktu itu adalah 7.

“Jadi totalnya sekitar 30, lebih banyak anak laki-laki, mungkin ini tidak menggambarkan Indonesia, maksudnya tidak seluruh wilayah, karena tidak semua tempat juga bisa kami datangi atau bisa kami awasi,” kata Retno.

Dikatakan, kalau pada tahun 2019, anak perempuan lebih banyak daripada anak laki-laki. Jadi, anak laki-laki sekitar 52 sementara anak perempuan angkanya diatas 100.

“Untuk kekerasan seksual terhadap anak pada 2018-2019 itu 88% pelakunya adalah guru dan 22% adalah kepala sekolah, ini didata kami. Bahwa hasil pengawasan kami menunjukkan ini,”tambah Retno.
Selain itu, pelaku yang dari guru itu 40% adalah guru olahraga. Data KPAI kata Retno, pelaku 40% adalah guru olahraga dan 13,3% adalah guru agama, selebihnya adalah guru kesenian, guru komputer, guru IPS, guru bahasa Indonesia dan lain-lain.

Sedang bentuk kekerasan seksual nya kata Retno mulai dari sodomi, perkosaan, pencabulan maupun pelecehan seksual atau juga melakukan oral sek. Lalu, jenis kelamin korban dari 17 kasus misalnya di tahun 2019 itu korban itu mencapai 89 anak, terdiri dari 55 anak perempuan dan 34 anak laki-laki, itu data Januari sampai dengan Oktober dan ketika November sampai Desember di akhir tahun, KPAI ternyata menerima 4 kasus tambahan lagi.

“Dengan demikian korban itu mencapai 123 anak di tahun 2019, 71 adalah anak perempuan dengan 52 anak laki-laki, adapun jumlah pelaku total 21 orang, yang pada tahun 2019 ini 20 adalah laki-laki dan satu perempuan dan satu perempuan ini adalah kasus Bali dimana pelaku yang guru SMA atau setara mengajak muridnya melakukan trisome bersama pacarnya,” beber Retno.

Memang disebut Retno, modusnya beragam, tetapi pihaknya mengatakan, kasus kekerasan seksual berdasarkan jenjang pendidikan dari data 2018-2019, bukan data yang 202.

“Kami belum menutup data 2021 karena baru nanti per 31 desember,” kata Retno.

Selanjutnya, total kasus yang berdasarkan jenjang pendidikan, dIsebut Retno paling tinggi adalah SD yaitu 64,7%, kasus kekerasan seksual yang kedua adalah di SMP dan sederajat dengan kasus 23,53%, sedangkan di jenjang SMA atau sederajat itu kasusnya 11,77 %.

Sedangkan lokasi terjadi kekerasan seksual di lingkungan sekolah itu terjadi di ruang kelas ruang, kepala sekolah, kebun belakang sekolah, ruang laboratorium komputer, ruang ganti pakaian, ruang perpustakaan, di gudang sekolah. Ada juga guru ini pakai modus hafalan. Pada tahun 2018 ada kasus yang terjadi di di ruang mushola, ini adalah tempat-tempat dimana ketika KPAI datang, rata-rata tidak ada CCTV.

Menurut Retno, mungkin ini penting juga untuk melihat ruang ruang atau tempat tempat yang bisa dipakai oleh pelaku. Karena ada kasus di tahun 2018 di SMP negeri di kota Serang dimana 3 orang guru memacari 3 murid SMP dan 3 guru ini sudah menikah, 3 guru ini memacari 3 anak dan melakukan hubungan seksual diruang-ruang yang berada di ruang sekolah.

“Anehnya berbulan-bulan tidak ketahuan sampai dari 3 siswi ini ada yang hamil dan orang tua melakukan interogasi kepada anak siapa yang menghamilinya dan anaknya cerita ada dua gurunya lagi yang memacari temannya yang lain,” kata Retno juga mengungkapkan, kekerasan seksual juga mengincar anak-anak melalui dunia maya termasuk Game online. (Asim).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.