BERITABUANA.CO, JAKARTA – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera menyiapkan arah kebijakan digital yang berkelanjutan karena kondisi riil teknologi dan riset nasional saat ini dinilai sudah sangat jauh tertinggal dibandingkan negara lain.
Mengingat Indonesia masih menghadapi ketertinggalan yang cukup jauh dalam pengembangan teknologi dan riset digital.
Menurut Anggota Komisi I DPR RI, Junico Siahaan, kondisi tersebut membuat Indonesia masih sangat bergantung pada teknologi dan infrastruktur digital asing. Sehingga penguatan pusat data, cloud nasional, dan ekosistem teknologi domestik dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan digital Indonesia.
“Kita Indonesia hari ini secara kondisi yang real sudah sangat jauh tertinggal. Baik di dalam teknologinya, baik di dalam risetnya. Kita baru riset 40 miliar, sementara negara lain sudah berkali-kali lipat lebih besar,” kata Junico, dalam keterangan persnya, dikutip Selasa, (26/5/2026).
Ia menilai, fondasi digital dasar perlu diperkuat karena tantangan kedaulatan digital tidak hanya berkaitan dengan penguasaan teknologi AI, tetapi juga menyangkut penguasaan data, model digital, hingga layanan cloud nasional.
Selain itu, pihaknya juga menyoroti pentingnya membangun pusat data nasional yang lebih mandiri, termasuk mengurangi ketergantungan terhadap perangkat dan layanan asing, guna memperkuat kemandirian digital Indonesia.
Terakhir, kata Junico, minimnya investasi riset dan belum kuatnya political will menjadi salah satu penyebab lambatnya pengembangan teknologi nasional, dan Indonesia berisiko menjadi pasar besar bagi perkembangan teknologi global tanpa memiliki kekuatan digital yang mandiri.
“Kalau kita tidak serius berinvestasi dalam riset dan pengembangan teknologi, semakin lama kita akan semakin tertinggal dan hanya menjadi pasar bagi perkembangan teknologi dunia,” jelasnya.
Pemerintah diminta memperkuat infrastruktur dan kapasitas digital dasar secara menyeluruh. (jim)







