Harga Tiket Pesawat Kembali Dikeluhkan, Saadiah Dorong Subsidi Avtur untuk Tekan Tarif Penerbangan

by
Anggota Komisi V DPR RI, Saadiah Uluputty,. (Foto: Humas F-PKS DPR RI)

BERITABUANA.CO, JAKARTA — Lonjakan harga tiket pesawat kembali memicu keluhan masyarakat di tengah tekanan ekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini dinilai berdampak langsung pada kenaikan harga avtur yang menjadi salah satu komponen utama biaya operasional maskapai penerbangan.

Di tengah meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat, mahalnya tarif penerbangan kini bukan lagi persoalan kalangan tertentu. Biaya transportasi udara yang terus merangkak naik dinilai mulai membebani masyarakat luas, terutama mereka yang mengandalkan perjalanan udara untuk kebutuhan pekerjaan, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi.

Anggota Komisi V DPR RI, Saadiah Uluputty, mengatakan persoalan harga tiket pesawat telah menjadi aspirasi publik yang terus disampaikan kepada parlemen dari waktu ke waktu.

“Ini sebenarnya harga tiket pesawat menjadi salah satu aspirasi yang dari waktu ke waktu dikeluhkan oleh seluruh masyarakat Indonesia,” kata Saadiah dalam keterangan pers, Sabtu (23/5/2026).

Menurut politikus Fraksi PKS tersebut, transportasi udara kini telah menjadi kebutuhan masyarakat karena menawarkan efisiensi waktu dan mendukung mobilitas antardaerah yang semakin tinggi.

“Ini menyangkut hajat hidup orang banyak yang menjadi pengguna moda transportasi udara. Bukan lagi digunakan oleh kalangan ekonomi menengah ke atas saja, tetapi seluruh masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Saadiah menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS berpotensi memperburuk situasi karena sebagian besar komponen industri penerbangan, termasuk avtur, masih dipengaruhi fluktuasi mata uang asing. Jika dolar terus menguat, biaya operasional maskapai diperkirakan ikut meningkat dan berdampak pada tarif tiket.

“Dan juga dikhawatirkan jika terjadi dolar yang tinggi ini juga akan berpengaruh kepada kenaikan harga tiket,” katanya.

Dalam rapat bersama pemerintah, DPR disebut telah meminta penjelasan sekaligus mendorong langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga tiket pesawat. Salah satu opsi yang diusulkan adalah pemberian subsidi avtur seperti yang diterapkan di sejumlah negara tetangga.

“Kami harapkan agar jika avtur itu naik ada subsidi avtur seperti yang dilakukan oleh beberapa negara, misalnya Malaysia. Kenapa harga avtur naik tapi mereka bisa menstabilkan harga tiket, karena ada subsidi negara kepada avtur,” ujar Saadiah.

Ia menilai kebijakan subsidi energi di Indonesia selama ini masih berfokus pada bahan bakar umum, sementara avtur belum mendapat skema dukungan serupa. Padahal, menurutnya, subsidi avtur dapat membantu menjaga keberlangsungan operasional maskapai sekaligus melindungi daya beli masyarakat.

“Indonesia subsidinya masih subsidi BBM, belum ada subsidi ke avtur. Sehingga diharapkan ada subsidi dari negara untuk harga avtur agar maskapai tidak kolaps dan tetap bisa melayani masyarakat,” tuturnya.

Dengan adanya intervensi pemerintah melalui subsidi avtur, DPR berharap harga tiket pesawat dapat lebih terkendali dan tidak terus mengalami kenaikan.

“Sehingga pengguna maupun maskapai tidak terbebani, harga bisa distabilkan, dan yang kita harapkan itu bisa turun, jangan naik terus,” pungkasnya. (Ery)