BERITABUANA.CO, JAKARTA – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI meluncurkan Program Santripreneur Klaster Fesyen 2026 bertema “Brand Santri Mengguncang Industri” sebagai upaya mendorong kemandirian ekonomi dan kreativitas santri melalui pengembangan usaha fesyen.
Program tersebut diresmikan oleh Pimpinan BAZNAS RI Bidang Riset, Pengembangan, Perencanaan, dan Inovasi H. Syarifuddin, S.Ag., M.E., di Gedung BAZNAS RI, Jakarta, dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube BAZNAS TV, Selasa (12/5/2026).
Dalam pelaksanaannya, BAZNAS menggelar kompetisi kewirausahaan bagi santri dan alumni pesantren di bidang fesyen. Pendaftaran dibuka mulai 17 Mei hingga 22 Juni 2026 melalui _santripreneurbaznas.id_. Peserta terbaik akan mendapatkan bantuan modal usaha serta pendampingan usaha selama minimal enam bulan.
Pimpinan BAZNAS RI Bidang Riset, Pengembangan, Perencanaan, dan Inovasi H. Syarifuddin, S.Ag., M.E., mengatakan program Santripreneur merupakan ikhtiar BAZNAS untuk mencetak wirausaha muda dari kalangan santri yang berdaya saing, inovatif, serta mampu menciptakan lapangan kerja berbasis nilai-nilai keislaman.
“Alhamdulillah program ini sudah berjalan tiga tahun dengan berbagai sektor, termasuk fesyen dan terus dikembangkan BAZNAS karena memiliki dampak positif terhadap penguatan ekonomi santri,” ucapnya.
Menurutnya, penguatan kewirausahaan bagi santri menjadi bagian penting dalam mendukung dakwah sekaligus membangun kesejahteraan ekonomi umat. “Santri tidak cukup hanya dibekali ilmu agama, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk menghadapi kehidupan nyata di masyarakat. Karena itu mereka perlu memiliki keterampilan dan keahlian yang dapat menjadi bekal kemandirian,” ujar Syarifuddin.
Syarifuddin juga menyoroti besarnya potensi pesantren di Indonesia yang mencapai sekitar 42,391 pesantren dengan jumlah santri mencapai 2,5 juta orang. Menurutnya, angka tersebut menjadikan pesantren sebagai segmen strategis dalam program pemberdayaan zakat produktif.
Lebih lanjut, Syarifuddin menegaskan BAZNAS tidak dapat berjalan sendiri dalam mengembangkan program pemberdayaan santri. Oleh karena itu, BAZNAS terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pelaku industri fesyen.
“BAZNAS merupakan lembaga intermediary yang mendorong zakat menjadi lebih produktif. Karena itu, kami menggandeng mitra dan pelaku usaha yang kompeten agar program ini berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi mustahik,” katanya.
Sementara itu, Direktur Pendayagunaan dan Layanan UPZ CSR BAZNAS RI Eka Budhi Sulistyo, S.Pt., M.A.P., mengatakan program Santripreneur telah melahirkan ribuan startup entrepreneur dari kalangan santri di berbagai daerah melalui sejumlah klaster usaha.
Eka menjelaskan, dalam pelaksanaannya para peserta akan melalui proses seleksi bertahap. Sebanyak 100 peserta terbaik akan kembali diseleksi untuk mengikuti tahap lanjutan, sebelum akhirnya dipilih 50 peserta terbaik untuk mengikuti bootcamp dan memperoleh pendampingan usaha.
“Peserta terbaik nantinya tidak hanya mendapatkan penghargaan, tetapi juga modal usaha serta pendampingan selama minimal enam bulan agar usaha yang dijalankan dapat berkembang secara berkelanjutan,” jelasnya. (ful)







