RETORIKA “ZOMBIE“, atau retorika “beracun”, sama saja! Retorika palsu, AS-Iran kini tanpa perang sekaligus tanpa perdamaian. Keduanya berperilaku politik konservatif. “Status quo”.
Berbahayakah? Sangat berbahaya, tak ada kepercayaan satu sama lain, terutama Iran terhadap AS. Dua kali “dibohongi” (Juni 2025 & Pebruari 2026), Iran kini terpacu mempercepat pengayaan nuklirnya. Mengapa?
Berkaca pada nuklir Korea Utara (Korut) di Yongbyon, tak sedikit pun retorika “zombie” (apokaliptik)) terlontar ke arah Kim Jong Un. Korea Utara (pemilik nuklir), semestinya lebih layak mendapat ancaman Trump, ketimbang Iran yang baru pada tarap pengayaan uranium.
Memiliki nuklir, ternyata lebih disegani, ketimbang tak memiliki atau dalam proses pengayaan uranium. Kim Jong Un lebih dihormati, dibanding Ayatollah Khamenei dan Ali Larijani. Tak ada yang berani “mencelakai” cucu Kim Il Sung (pendiri Korut) ini.
Berangkat dari sini, Iran makin memperlihatkan “die hard”-nya (kepala batu). Kehancuran infrastruktur dan kematian para elite, tidak lagi menjadi faktor ‘submisif’ (patuh). Titik balik, justru menjadi anomali.
“Perdamaian dingin”, berupa gencatan senjata sepihak AS, menjadi keyakinan Iran bahwa AS menghitung negara Mullah ini. Iran tak akan melupakan dan memaafkan AS (rudal Tomahawk) mencabik 168 kanak Minab, dan pemimpin terhormat rakyat Iran (Khamenei).
Tekad menyiapkan pemurnian uranium menjadi nuklir, tak bisa lagi ditarik ke belakang. “No point of return”! Hanya dengan nuklir, Iran tidak akan diserang lagi oleh AS-Israel, seperti AS tidak berani menyerang Korea Utara, atau menyudahi kehidupan Kim Jong Un.
Sekalipun, katakanlah proyek pengayaan uranium untuk meningkatkan konsentrasi isotop (U-235) yang awalnya hanya 0,72 persen menjadi kadar lebih tinggi hingga 60 persen, telah dihancurkan bom AS-Israel di (Ferdow-Nathanz-Isfahan).
Iran masih memiliki opsi yang tak bisa dikendalikan, dan jauh dari jangkauan AS-Israel. Keunggulan militer tidak menjadi “apple to apple” lagi, atau kehancuran infrastruktur nuklir Iran bukan menjadi “benchmarking” (tolok ukur), bahwa program nuklir Iran telah berakhir.
Mengguncang keangkuhan AS-Israel, Iran bisa mengambil model Korea Utara untuk mengakselerasi (mempercepat) pengayaan isotop uranium (U-235 dan U-238) dalam proses fisika. Dengan menggunakan teknologi sentrifugal gas.
Lantas, darimana semua itu bisa diperoleh Iran? Korea Utara, saat awal menjalankan program nuklirnya (1950-1956), mencari dan menggunakan teknologi pasar gelap (black market) di Pakistan. Bantuan pelatihan ilmuwan Rusia yang intensif, makin mempercepat beroperasinya reaktor nuklir Korut di Yongbyon (1986).
Rasa segan AS, terlihat kental, pada tiga pertemuan Presiden Donald Trump dengan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un kurun 2018-2019. Singapura, Hanoi (Vietnam), serta garis demarkasi & zona demiliterisasi (DMZ) Panmunjom (perbatasan Kotsel-Korut), menjadi sejarah Trump menghormati Kim.
Negosiasi Trump-Kim tidak menghasilkan apa pun. Pembicaraan AS-Korut terhenti, karena permintaan ‘denuklirisasi’ AS, dicurigai Kim sebagai upaya memperlakukan Korut kelak seperti negara-negara yang tak punya nuklir. Menjadi “kertas kosong” tanpa “tinta”, Korut akan mengalami apa yang dialami Iran saat ini.
Kini, siapa yang mampu memastikan, putra Kim Jong Il (Kim Jong Un) ini, tidak akan menyediakan hulu ledak nuklir lengkap untuk Iran? Atau, alternatif lain! Korut dapat memasok uranium yang diperkaya tinggi, desain hulu ledak, dan kepakaran Korut, dengan sembiosa mutualisme “oil & gas” Iran?
Kim Jong Un, siapa yang bisa melarangnya memasok nuklir ke Iran? Sama seperti Trump, siapa yang mampu melarangnya menangkap Maduro, atau membom pemimpin Iran? Kim semakin berani kepada AS, sejak kegagalan upaya “approach” persuasif Trump kepadanya.
Penolakan Iran, berunding kembali dengan AS dalam ‘bab’ Islamabad-2, tak lepas dari negosiasi ‘zombie’, atau retorika ‘zombie’ tanpa makna. Permintaan menghapus program nuklir Iran, persis seperti persuasif-nya pada Kim untuk melakukan ‘denuklirisasi’.
Menjauh, Iran memilih itu, dan terserah Trump bila ingin “membayarnya” dengan “apokaliptik” kembali (Tomahawk). Negosiasi, bila tuntutannya tetap sama, dalam kalkulasi Iran, lebih baik berperang habis-habisan. Iran belajar dari cara Trump “menghormati” Kim. Korut sudah benar, dengan eksistensi nuklirnya. Iran kini, juga harus seperti Korut!
AS di tangan Trump, sudah menciptakan banyak musuh. Trump dalam statemennya berpikir pasca Hotel Washington Hilton, Iran terlibat pada upaya itu? “Kita akan terus menyerang Iran. Kita tidak tahu, apa penembakan ini berkait Iran”?
Amandemen Pertama
Peristiwa penembakan yang diduga mengarah ke Trump, menjadi diskursus inklusif. Konklusi seantero dunia? Betul, gaya komunikasi politik sarkastis Trump cenderung membuka front pada aktor non-negara.
Tradisi Asosiasi Koresponden Gedung Putih (WHCA), yang terselenggara berdasarkan Amandemen Pertama Konstitusi AS: menjamin kebebasan pers, yang sejak tahun 1924 Presiden AS ke-30 Calvin Coolidge hadir. Kehadiran Trump di Washington Hilton (25 April) ini, mengikuti tradisi yang telah dibangun pendahulunya.
Trump, memang sudah kali ke-3 mengalami situasi berbahaya ini. Saat kampanye di Pennsylvania (Juli 2024), dua bulan kemudian percobaan pembunuhan terhadap Trump kembali terjadi di Florida. Selanjutnya, Pebruari 2026 percobaan serupa di lapangan golf milik Trump (Mar-a-Lago/Florida). Semua gagal.
Siklus ini memperlihatkan, Trump banyak musuh. Trump tidak boleh lengah, seperti lengahnya Presiden John F Kennedy (JFK) yang tewas 1963 (Dallas), dan sebelumya: Abraham Lincoln (Presiden ke-16/1865), James A. Garfield (Presiden ke-20/1881), William McKinley (Presiden ke-25/1901), yang semuanya tewas karena tembakan oleh aktor non-negara. Berbagai alasan melatarinya.
Penembakan terhadap Trump. (Presiden ke-45 & 47 AS) yang gagal, sama dengan beberapa Presiden AS lain yang juga selamat dari upaya pembunuhan: Andrew Jackson (Presiden ke-7), Theodore Roosevelt (26), Franklin D. Roosevelt (32), Ronald Reagan (Presiden ke-40), dan terakhir Donald Trump.
Berbagai alasan, terkait konspirasi politik, persaingan, atau dari dunia kejahatan yang terganggu, bisa menjadi diskursus penyebab penembakan Presiden AS.
John H. Davis, dalam buku “The Kennedy’s: Dynasty and Disaster” (McGraw-Hill: 900 halaman-1984) menyebutkan, penembakan Presiden JFK, karena gencarnya upaya Jaksa Agung Robert F. Kennedy (adik JFK) memberantas kejahatan terorganisir. Salah satu variabel, Presiden AS lain, tentu ada variabelnya.
Nah, bila penembakan Trump oleh Cole Thomas Allen beralasan marah, karena serangan AS ke Iran, sangat menarik. Tentu ini linear dengan demo “No King’s” (akhir Maret), yang dilakukan sekitar delapan juta rakyat AS, belum lama.
Setiap masa, ada orangnya. Setiap orang, ada masanya. Setiap kejadian, termasuk penembakan terhadap Trump, atau JFK, atau Andrew Jackson, punya alasan berbeda. JFK, Trump, dan Jackson pasti tahu, mengapa dia ditembak?
Dari Ferdow, Nathanz, Isfahan, Gaza, Minab, Teheran, Caracas, Panmunjom, Washington, Trump melaluinya bersama musim semi yang rimbun. Sekaligus musim dingin yang beku.
Penembakan Trump, pasti karena ada sesuatu. Pasti karena retorika “zombie” (merusak dan menakutkan) yang sering terlontar. Apa? Semua bisa membaca dari A hingga Z.
*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co)







