“ROCKY GERUNG melunak. Rocky Gerung khianat”, begitu kira-kira kalimat spontan yang muncul dari banyak orang. Ini terkait dengan kehadiran Rocky Gerung dalam pelantikan Mohammad Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup di Istana Negara, Senin, 27 April 2026, yang memang menarik dibaca secara politik.
Bacaan itu tentu bukan semata karena Rocky datang ke jantung kekuasaan, tetapi karena ia datang sebagai figur yang selama ini dikenal keras mengeritik kekuasaan. Lebih menarik lagi, Presiden Prabowo Subianto sempat menyalaminya dalam suasana akrab dan penuh tawa.
Menurut laporan media, Rocky menyebut dirinya hadir karena diundang menyaksikan pelantikan Jumhur, bahkan ia menyebut Jumhur sebagai “keluarga” atau kawan dekatnya.
Pertanyaannya, apakah ini sinyal Rocky Gerung mulai mendukung Prabowo? Jawabannya tidak sesederhana itu. Dalam politik, kehadiran fisik tidak selalu identik dengan perubahan posisi ideologis. Orang bisa hadir di Istana bukan karena menyerah kepada kekuasaan, tetapi karena menghormati sahabat yang sedang dilantik.
Apalagi, Jumhur Hidayat bukan tokoh biasa bagi lingkaran aktivis. Ia memiliki jejak panjang dalam dunia gerakan buruh dan aktivisme. Karena itu, kehadiran Rocky lebih tepat dibaca terlebih dahulu sebagai gestur personal, yaitu seorang sahabat yang hadir untuk sahabatnya.
Namun, politik selalu bekerja melalui simbol. Dan simbol sering lebih keras bunyinya daripada pernyataan resmi. Rocky yang selama ini kerap berdiri di luar pagar kekuasaan, tiba-tiba terlihat berada di dalam Istana, bersalaman dengan Presiden, tertawa bersama, dan hadir pada momentum reshuffle kabinet.
Publik tentu berhak membaca itu sebagai tanda cairnya jarak antara kritik dan kekuasaan. Terlebih, sebelumnya Rocky pernah menyampaikan keraguan apakah Prabowo dapat bertahan hingga 2029, sebagaimana diberitakan sejumlah media.
Di sinilah letak dilema moral seorang intelektual publik. Ketika ia terlalu jauh dari kekuasaan, ia bisa dianggap hanya pandai berteriak dari luar pagar. Tetapi ketika ia terlalu dekat dengan kekuasaan, ia mudah dicurigai mulai kehilangan jarak kritis.
Dan Rocky sedang berada di titik rawan itu. Kehadirannya di Istana bisa dibaca sebagai kecerdasan politik: tetap kritis, tetapi tidak anti-dialog. Namun bisa juga dibaca sebagai inkonsistensi simbolik: kemarin meramal kekuasaan akan rapuh, hari ini ikut tertawa di halaman kekuasaan.
Menurut saya, ukuran utamanya bukan apakah Rocky datang ke Istana atau tidak. Ukuran sebenarnya adalah: apakah setelah datang ke Istana, Rocky masih berani mengatakan yang salah sebagai salah? Apakah setelah bersalaman dengan Prabowo, ia masih berani mengkritik kebijakan Prabowo bila keliru? Apakah setelah hadir dalam pelantikan Jumhur, ia tetap menjaga independensi nalar, atau mulai melembut karena merasa menjadi bagian dari lingkaran sosial kekuasaan?
Dalam demokrasi yang sehat, kritik tidak harus selalu bermusuhan secara personal. Seorang intelektual boleh bersalaman dengan Presiden, boleh tertawa, boleh hadir di Istana. Tetapi ia tidak boleh menukar akal sehatnya dengan akses. Ia boleh fleksibel dalam pergaulan, tetapi tidak boleh elastis dalam prinsip. Fleksibilitas adalah kecerdasan; oportunisme adalah kemunduran moral.
Karena itu, terlalu cepat menyimpulkan Rocky telah “berbalik mendukung” Prabowo. Yang lebih masuk akal, ia hadir untuk Jumhur. Tetapi terlalu naif juga bila mengatakan momen itu tidak punya efek politik. Foto, tawa, dan salaman di Istana adalah bahasa politik. Ia bisa melemahkan citra Rocky sebagai oposisi intelektual yang keras, tetapi juga bisa memperkuat citranya sebagai kritikus yang tidak terjebak dalam kebencian personal.
Bagi Prabowo, momen itu justru menguntungkan. Ia terlihat sebagai pemimpin yang cukup percaya diri untuk menyalami pengkritiknya. Bahkan menurut pengakuan Rocky yang dikutip media, Prabowo sempat bercanda bahwa Rocky “masih disiden.” Kalimat itu penting. Ia memberi pesan bahwa Presiden ingin tampil sebagai pemimpin yang tidak alergi terhadap kritik.
Tetapi bagi Rocky, pekerjaan rumahnya lebih berat. Ia harus membuktikan bahwa tawa di Istana bukan tanda jinaknya kritik. Ia harus menunjukkan bahwa kedekatan personal dengan Jumhur, bahkan hubungan cair dengan Prabowo, tidak membuatnya kehilangan disiplin intelektual.
Sebab, seorang intelektual publik dinilai bukan dari siapa yang ia salami, tetapi dari keberanian moralnya ketika kekuasaan menyimpang.
Maka, kehadiran Rocky Gerung di pelantikan Jumhur Hidayat sebaiknya dibaca dalam tiga lapis. Pertama, sebagai gestur persahabatan kepada Jumhur. Kedua, sebagai simbol mencairnya komunikasi antara kekuasaan dan pengkritiknya. Ketiga, sebagai ujian konsistensi bagi Rocky sendiri.
Bila setelah ini Rocky tetap kritis, maka kehadirannya di Istana adalah sikap cerdas: ia mampu membedakan kritik terhadap kebijakan dan hubungan personal. Tetapi bila setelah ini kritiknya tumpul, maka publik berhak menyebutnya inkonsisten.
Sebab, dalam demokrasi, yang paling berbahaya bukan ketika seorang intelektual masuk Istana. Yang paling berbahaya adalah ketika nalar kritisnya tertinggal di luar pagar Istana.
Bagaimana sikap Rocky pasca hadir di Istana, mari kita lihat besok dan seterusnya. Tetap kritis? atau Melunak?
*Toto Izul Fatah* – (Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA/Ketua Umum IKA PP Ibadurahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat)







