JOSEPH AOUN tengah “membaca sejarah”! Undangan Donald Trump ke Washington. Mempertemukan dirinya dengan Benyamin Netanyahu, seperti meruntut kilas balik.
Meminta Presiden ke-14 Lebanon, bertemu PM ke-14 Israel, tak akan solutif komprehensif. Terlebih, kesepakatan yang diminta Israel, perlucutan Hezbollah. Hampir nihil, selagi konflik AS-Iran belum mencapai titik temu.
Berulangkali, lebih dari delapan dasawarsa, sejak Perancis mengakhiri mandatnya di Lebanon (1943). “Swiss”-nya Mediterania ini, selalu menjadi “samsak” Israel, atau Suriah. Kekuasaan, dan penguasa sering terbunuh oleh faktor Israel, atau Suriah.
Keberanian Aoun, implisit (tanpa menyebut Suriah-Israel-Iran) menarasikan, Lebanon bukan lagi “kartu” dalam permainan siapa pun. Mengindikasikan, ada probabilitas dia akan berangkat memenuhi undangan Trump.
Waktu ke waktu, Lebanon telah menjadi zona perang tanpa akhir. Polarisasi etnik, agama, milisi, faktor Palestina, Iran, dan Israel, membawa Lebanon pada sumbu api yang setiap saat bisa terbakar.
Melihat ‘ekosistem’ dan ‘metabolisme’ kekacauan Lebanon, bisa dihitung secara aritmatika, atau deret matriks. Rantai tertingginya, Palestina yang dibela oleh Iran lewat proxi-nya di Lebanon (Hezbollah).
Setiap eskalasi di Jalur Gaza, atau Tepi Barat, maka Hezbollah akan menembakkan roket ke Israel Utara (dari Lebanon Selatan). Saat itu pula Israel membalas secara asimetris, tidak seimbang, dan mematikan.
Lebanon tak pernah stabil sebagai negara. “Kemewahan”, dan kedamaian Lebanon, sangat bergantung dengan apa yang terjadi di Palestina dan Iran.
Gempuran Israel terhadap Hezbollah yang melahirkan perang sengit 2025 menghancurkan infrastruktur Lebanon. Seperti halnya, perang Hezbollah-Israel (2026) karena membela Iran. Perang Hezbollah-Israel, sebelum ini karena membela Hamas (Palestina).
“World Bank” (Bank Dunia) memperkirakan, Lebanon telah mengalami kerugian sebesar US$ 8,5 milyar, di mana sebesar US$ 3,5 milyar berupa kerusakan langsung pada infrastruktur (bangunan) fisik. Angka ini, untuk peperangan dahsyat Hezbollah-Israel, dan pengungsian 20 persen rakyat Lebanon.
Kejenuhan Joseph Aoun, tergambar dari statemennya yang berbau permohonan. “Kepada mereka yang mempertaruhkan nasib Lebanon dan nyawa rakyat Lebanon. Saya katakan, cukup”! (Jerusalem Post, 18 April 2026).
Tidak mudah bagi Joseph Aoun memaksa Hezbollah, untuk tidak menembakkan roket ke Israel. Hezbollah (Syiah), bukanlah bangsa Iran. Mereka adalah bagian dari komunitas Islam Lebanon (Suni & Syiah) yang jumlahnya signifikan diantara 5,6-6 juta penduduk.
Responsif Israel, selalu berlebihan terhadap serangan Hezbollah. Tak jarang, Israel menyerang Kota Beirut (ibukota) atas serangan yang dilakukan dari markas Hezbollah di Lebanon Selatan.
Kejenuhan Lebanon sebagai ‘samsak’, wajar. Negeri dengan luas 10.000 km persegi lebih ini, tak akan pernah stabil selagi “rantai puncak” sengketa (Palestina), tidak diselesaikan oleh ‘arbitrator’ kuat dan netral. AS-lah jawabannya.
Gencatan senjata 10 hari antara Israel- Lebanon saat ini, pun lebih pada gencatan senjata Hezbollah-Israel, yang dipaksa AS terhadap Israel. Negeri zionis ini hanya tunduk kepada AS, tak ada yang lain.
Negosiasi Washington yang dikatakan Trump (16 April kemarin lusa), bisa saja berlangsung kurun sebelum masa gencatan senjata berakhir.
Pembicaraan Aoun-Netanyahu, akan menjadi ajang komunike bersama, bahwa serangan Israel ke Lebanon disebabkan oleh serangan Hezbollah kepada Israel (2 Maret). Sebab-akibatnya Hezbollah membela Iran.
Memenuhi undangan Trump, bagi Hezbollah dan kelompok aliran lain di Lebanon, akan dianggap sebagai berkolaborasi dengan Israel. Terlebih AS, bukanlah mediator netral yang menimbulkan prasangka dari pihak yang tidak hadir (Hezbollah).
Hezbollah mestinya, harus masuk ke dalam unsur pemerintahan Lebanon (Tim-nya Joseph Aoun). Agar negosiasi dapat berhasil. Kini Hezbollah menjadi “Ex Parte Contact”, sehingga proses perundingan menjadi tak punya arti. Tokh, perang akan kembali berlanjut.
Catatan Lebanon
Joseph Aoun, bila jadi berangkat memenuhi undangan Washington (berunding dengan Israel), posisinya akan sangat rentan. Ancaman kematian, seperti pernah terjadi pada Presiden, atau PM Lebanon terdahulu akan mengintai.
Diksi Aoun, “siap memikul” tanggung jawab penuh atas pilihannya, dan siap pergi ke mana saja untuk membebaskan Lebanon (dari serangan Israel). Indikator, Aoun tahu sejarah dengan catatan-catatan tragis.
Presiden Lebanon, Bashir Gemayel yang memenangkan Pemilu 1982, berakhir dengan kematian (sebelum dilantik). Bashir Gemayel tewas oleh ledakan bom di kantor Partai Phalangist (partainya).
Diasumsikan sebagai pro-Israel, setelah terpilih sebagai Presiden Lebanon (23 Agustus 1982), presiden termuda Lebanon (35 tahun), dibunuh (bom) Habib Tanious Shartouni, dari sebuah partai di Lebanon yang pro-Suriah.
Tudingan terhadap putra pendiri Partai Phalangist (Pierre Gemayel) ini, telah bekerjasama erat dengan Israel terutama selama invasi Israel ke Lebanon (1982). Kebencian kepada Bashir menyeruak banyak pihak di Lebanon.
Rene Moawad, Presiden Lebanon 1989, mengikuti jejak Bashir Gemayel. Terbunuh akibat bom yang ditanam di mobilnya, saat kembali dari perayaan hari kemerdekaan Lebanon. Moawad Hanya 15 hari menjabat Presiden, sebelum terbunuh.
Terikat perjanjian Taif (Arab Saudi), Rene bertekad melucuti para milisi (termasuk Hezbollah), dalam upayanya mengakhiri perang saudara di Lebanon. Sebagai langkah menuju rekonsiliasi nasional. Inilah penyebabnya.
Meski tak pernah terungkap siapa pelakunya, diduga bagian dari eksternal asing (diduga Suriah), walau bisa jadi dari internal dalam partai Phalangist sendiri. Ketentuan UU dan Konstitusi Lebanon: Presiden dari Kristen Meronit, PM dari Islam Suni.
Setelah Gemayel dan Moawad, Rafik Hariri (PM Lebanon), juga terbunuh. Hariri dianggap sebagai ancaman bagi eksistensi Suriah dan Hezbollah. Hariri yang terbunuh (oleh bom 2005), merupakan oposisi yang anti dengan Bashar Al-Assad (sekutu Hezbollah di Suriah).
Joseph Aoun, hapal ‘histori’ Lebanon. Desakan pejabat senior Hezbollah (Nawaf al-Moussawi), agar sang Presiden tidak tunduk pada perintah Trump, satu indikator.
Kata-kata Moussawi, Aoun akan kehilangan posisinya, di mana legitimasi berasal dari dalam Lebanon, bukan dari luar (Yedioth Ahronoth, 18 April 2026). Menandai bahwa Hezbollah tidak setuju Aoun datang ke Washington.
Bagi Presiden Joseph Aoun ini adalah pertaruhan. Kekuatan Hezbollah, meski kini tidak lagi ditopang Suriah, akar dan dukungan rakyat Lebanon masih sangat kuat. Terlebih PM Lebanon saat ini (Nawaf Salam), tentu tidak akan sejalan dengan Presiden Joseph Aoun, bila negosiasi Washington hanya untuk menerima konsesi yang merugikan Lebanon.
Aoun, tentu harus waspada memilih dan mengambil keputusan!
*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co)







