MESKI belum menjadi hukum besi prilaku pemilih yang permanen, figur yang memiliki elektabilitas kokoh di sebuah partai politik, punya kecendrungan kuat memberi efek elektoral positif kepada partai tersebut.
Beberapa contoh membuktikan kebenaran dalil politik itu. Sebut saja, Demokrat dulu sempat melesat perolehan suaranya pada saat Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) berada di puncak elektabilitas yang moncer. Begitu juga, PDIP sempat terkerek perolehan suaranya saat Jokowi memimpin popularitas dan elektabilitas saat partai itu mendukungnya sebagai calon presiden.
Data yang kurang lebih sama, terjadi pada partai Gerindra di 2019 lalu. Perolehannya melejit di berbagai daerah karena terjadi Prabowo Effect, yaitu efek Prabowo yang sedang naik daun sebagai calon presiden dengan elektabilitas tertinggi mengalahkan dua pasang kandidat lain, Ganjar – Mahfud dan Anies – Muhaimin.
Hari ini, Gerindra tampaknya berada pada posisi yang lebih istimewa. Ia tidak hanya memiliki Prabowo Subianto sebagai figur nasional yang masih dominan, tetapi juga ada Dedi Mulyadi sebagai figur regional yang sedang naik kelas ke panggung nasional.
Dalam bahasa politik yang lebih imajinatif, Gerindra sedang memiliki dua “Bintang Kejora”. Yang satu sudah matang di langit kekuasaan, yang satu lagi mulai menyala di bumi elektoral baru.
Secara strategis, ini membuat jalan Gerindra menuju Pileg 2029 terbuka sangat lebar. Tetapi seperti semua jalan menuju puncak, ia tidak bebas dari badai.
Yang pasti, per hari ini, Prabowo tetap masih merupakan aset terpenting Gerindra. Survei Indikator Politik Indonesia yang dilakukan pada 15–21 Januari 2026 mencatat tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo mencapai 79,9 persen. Angka itu sangat tinggi untuk seorang presiden yang sudah memegang beban penuh pemerintahan.
Meskipun, angka approval rating itu tak pernah berbanding lurus dengan elektabilitas. Artinya, approval rating tak sama dengan elektabilitas. Seseorang yang mengaku puas atas kinerja seorang presiden, bisa saja pada saatnya lebih memilih calon presiden lain. Tetapi, dengan bekal approval rating yang tinggi, punya modal untuk memiliki elektabilitas yang tinggi juga. Hanya saja, yang harus diwaspadai, jangan sampai approval ratingnya merosot. Sebab, seorang pemimpin yang turun tingkat kepuasannya, punya kecendrungan akan terus menurun, dan susah untuk rebound nya lagi.
Dalam politik elektoral, approval rating itu memang penting. Terutama, dalam kepentingan legitimasi menjaga citra seorang pemimpin. Lebih dari itu, legitimasi juga diperlukan sebagai bahan bakar utama bagi partai penguasa untuk menjaga momentum di pemilu legislatif. Selama publik masih menilai kepala negara bekerja cukup baik, partai yang paling lekat dengannya hampir selalu mendapat limpahan manfaat persepsi. Gerindra jelas berada di posisi itu.
Yang penting dan menarik, kekuatan Gerindra tidak berhenti pada Prabowo. Ada sosok Dedi Mulyadi yang memberi partai ini dimensi baru. Survei Indikator di Jawa Barat pada 30 Januari–8 Februari 2026 menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Kang Dedi Mulyadi (KDM) sebagai Gubernur Jawa Barat mencapai 95,5 persen. Ini bukan sekadar angka bagus, melainkan angka yang luar biasa besar untuk seorang kepala daerah di provinsi paling padat penduduk dan paling strategis secara elektoral.
Jawa Barat bukan daerah biasa. Ia adalah lumbung suara nasional, salah satu penentu arsitektur kekuasaan Indonesia. Ketika seorang figur mendominasi Jawa Barat dengan approval setinggi itu, maka ia sedang membangun lebih dari sekadar kekuasaan daerah. Ia sedang menyiapkan pijakan yang relevan dengan kepentingan politik tingkat nasional.
Di sinilah letak keunggulan Gerindra dibanding banyak partai lain. Ia punya figur utama dan figur cadangan. Tetapi, keduanya sama-sama bersinar dan bercahaya. Prabowo menjadi pusat legitimasi kekuasaan nasional. KDM menjadi sumber energi baru yang lebih segar, lebih cair, dan lebih populis.
Kabar gembira lainnya buat Gerindra, Survei Indekstat pada Februari 2026 menempatkan Prabowo sebagai figur capres teratas, sementara KDM sudah masuk peringkat kedua dengan jarak elektabilitas yang masih jauh.
Meskipun begitu, yang harus dicatat, KDM kini tidak lagi sekadar tokoh lokal Jawa Barat, melainkan sudah mulai merambah ke bursa nasional. Itu artinya Gerindra tidak hanya punya pemimpin, tetapi juga punya figur suksesi bayangan. Dan partai yang punya bayangan masa depan biasanya lebih tahan terhadap guncangan.
Pertanyaannya, apakah keberadaan dua figur ini membuat Gerindra berpotensi menjadi bintang Pileg 2029? Jawabannya: sangat mungkin, karena potensi untuk itu ada. Pada Pileg 2024, Gerindra meraih 20.071.708 suara sah nasional, menjadikannya salah satu partai terbesar di Indonesia. Itu adalah fondasi keras yang sudah terbukti di kotak suara.
Modal Gerindra itu diperkuat oleh temuan data survei terbaru sejumlah lembaga survei pada awal 2026, bahwa elektabilitas Gerindra sudah berada di papan atas dengan angka 33,7 persen. Dengan kata lain, partai ini tidak sedang membangun mimpi dari ketiadaan.
Ia sudah punya basis suara riil, punya presiden yang approval-nya tinggi, dan kini punya figur daerah yang sedang tumbuh menjadi magnet baru.
Bila ketiga unsur ini dikelola dengan baik, Gerindra memang sangat berpeluang tampil sebagai bintang utama Pileg 2029. Tetapi, politik tidak pernah hanya soal stok figur. Politik selalu ditentukan juga oleh keadaan hidup rakyat. Di sinilah tantangan pertama Prabowo muncul.
Approval yang tinggi hari ini bisa menjadi beban besok bila ekonomi rumah tangga mulai terasa berat. Rilis Indikator Februari 2026 menunjukkan 45,3 persen responden merasa harga kebutuhan pokok kini lebih tidak terjangkau dibanding setahun sebelumnya. Dan pengendalian harga menjadi salah satu masalah paling mendesak yang diminta publik untuk segera ditangani.
Ini penting. Seorang presiden bisa tetap disukai sebagai pribadi, tetapi partainya bisa tergerus bila warga merasa dapur mereka makin mahal. Dalam demokrasi, stabilitas psikologis pemilih sering ditentukan bukan oleh pidato negara, melainkan oleh isi tas belanja.
Tantangan halus yang tak kalah penting bagi Gerindra adalah, bagaimana mengelola dua “Bintang” ini tanpa menimbulkan gesekan panas. Sebab, dalam sejarah partai di Indonesia, dua figur besar bisa menjadi kekuatan, tetapi juga bisa berubah menjadi sumber kerontokan karena kuatnya tarik-menarik.
Menurut saya, selama Prabowo masih kuat dan Dedi tetap ditempatkan sebagai aset masa depan, situasi itu akan produktif. Namun bila suatu hari terjadi penurunan tren pada Prabowo dan kenaikan terlalu cepat pada KDM, Gerindra harus pandai mengelolanya agar tidak berubah menjadi desakan liar suksesi yang prematur.
Partai besar sering jatuh bukan karena kekurangan tokoh, tetapi karena terlalu cepat memperebutkan Bintang berikutnya. Di sinilah kedewasaan elite Gerindra akan diuji. Kesetiaan pada struktur harus berjalan seiring dengan keberanian menyiapkan regenerasi.
Karena itu, jalan Gerindra menuju bintang Pileg 2029 pada dasarnya adalah jalan untuk mengubah keunggulan figur menjadi keunggulan institusi. Prabowo dan KDM tidak boleh berhenti sebagai dua nama besar. Keduanya harus diterjemahkan menjadi mesin caleg yang lebih kuat, kaderisasi yang lebih terjaga, jaringan sosial yang lebih luas, dan narasi ekonomi yang lebih meyakinkan.
Sekarang, bahan sudah ada, dan modal sudah punya. Tinggal, bagaimana keduanya bekerja sunyi dengan hasil yang berbunyi. Prabowo memberi legitimasi, dan KDM menambah energi. Prabowo menjaga langit nasional, KDM mendongkrak elektoral di tanah lokal. Kombinasi seperti inilah yang akan membuat Gerindra potensial menjadi bintang Pileg 2029.
Yang harus diingat, politik tidak pernah memberi kemenangan cuma-cuma. Selama ekonomi nasional dan global masih rawan bergejolak, selama harga-harga masih bisa mengganggu psikologi rakyat, dan selama transisi dari figur ke institusi belum tuntas, selama itu juga potensi goncangan yang menyulut kekacauan dan situasi abnormal bisa terjadi.
Itulah yang harus menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Gerindra, jika ingin tetap menjaga dan merawat dua Bintang itu sebagai cahaya yang menerangi jalan kemenangan di Pileg 2029.
*Toto Izul Fatah* – (Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA)







