Dampak Krisis Energi Perang AS-Israel Lawan Iran Lebih Parah Dibanding Krisis Minyak di Tahun 1970-an

by
Krisis energi ditandai BBM mahal. (Foto: CS)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Kepala International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menegaskan situasi perang Amerika Serikat (AS) bersama Israel melawan Iran saat ini lebih parah dibandingkan gabungan krisis minyak 1970-an dan dampak perang Rusia-Ukraina.

Birol menyebut konflik AS-Israel melawan Iran memicu gejolak energi global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Penutupan efektif Selat Hormuz menjadi faktor utama yang memperparah situasi.

“Krisis ini sekarang merupakan gabungan dari dua krisis minyak dan satu krisis gas,” ujar Birol, dikutip dari Al Jazeera, Senin (23/3/3026).

Pasokan minyak dunia anjlok sekitar 11 juta barel per hari, lebih dari dua kali lipat krisis energi era 1970-an. Di sisi lain, pasokan LNG juga terpangkas hingga 140 miliar meter kubik, jauh di atas dampak perang Ukraina dengan Rusia.

Tak hanya itu, Birol menyebut, sebanyak 40 fasilitas energi di sembilan negara dilaporkan rusak parah akibat konflik. Kondisi ini langsung mengguncang pasar global.

“Perekonomian global saat ini menghadapi ancaman yang sangat besar,” tegasnya.

Harga minyak pun meroket lebih dari 50% sejak perang pecah pada 28 Februari. Situasi diperburuk dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump bahkan telah mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut dalam waktu 48 jam.

Jika tidak dipatuhi, Iran terancam serangan terhadap infrastruktur pembangkit listriknya. Sebaliknya, Iran mengancam akan menutup total Selat Hormuz dan menyerang fasilitas energi di kawasan jika ultimatum itu dijalankan.

IEA sendiri mengusulkan sejumlah langkah yang dapat diambil pemerintah untuk mengurangi konsumsi energi. Langkah tersebut antara lain mendorong kerja jarak jauh, berbagi kendaraan (carpooling), serta menurunkan batas kecepatan di jalan tol.

“Saya merasa kedalaman masalah ini belum dipahami dengan baik oleh para pengambil keputusan di seluruh dunia,” pungkasnya. (Kds)