Badai Pasir Hantam Kamp Pengungsi Gaza, Tenda Roboh

by
Badai pasir melanda di kamp pengungsi Gaza. (Foo( Reuters)

BERITABUANA.CO, GAZA CITY – Ribuan pengungsi Palestina di Jalur Gaza kembali menghadapi krisis kemanusiaan setelah badai pasir hebat menerjang sejumlah kamp pengungsian pada Sabtu (14/3/2026), merobohkan tenda-tenda darurat dan memperburuk kondisi warga yang telah berbulan-bulan hidup tanpa tempat tinggal layak.

Di tengah lanskap konflik yang belum mereda, cuaca ekstrem menambah penderitaan para pengungsi yang tinggal di perkemahan sementara di Gaza selatan dan tengah. Angin kencang yang membawa debu dan pasir menghantam kawasan padat pengungsi, menyebabkan banyak tenda runtuh serta berbagai barang milik warga beterbangan.

Badai dilaporkan melanda wilayah sekitar Khan Younis hingga Kota Gaza. Ribuan warga yang menempati kamp darurat terpaksa berjuang menahan terpaan angin dan pasir yang merusak tempat perlindungan mereka.

“Setiap kali gelombang angin datang, tenda-tenda roboh,” kata seorang pengungsi, Mouhamed Abu Harbid, menggambarkan kondisi yang mereka alami di tengah badai.

Situasi semakin rumit karena kondisi keamanan di Gaza belum sepenuhnya stabil. Intensitas serangan militer Israel yang sempat menurun pada awal memanasnya konflik dengan Iran kini dilaporkan kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Pejabat Palestina menyebut sedikitnya 23 orang tewas di Gaza sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Di tengah eskalasi tersebut, upaya diplomasi untuk meredakan konflik juga mengalami hambatan. Laporan Reuters menyebut rencana perdamaian Gaza yang digagas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tertunda setelah pecahnya konflik yang lebih luas dengan Iran.

Perkembangan ini menambah ketidakpastian bagi warga sipil di Gaza Strip, yang tidak hanya menghadapi dampak perang berkepanjangan tetapi juga bencana cuaca yang merusak fasilitas pengungsian mereka. Para pekerja kemanusiaan memperingatkan bahwa tanpa perlindungan yang memadai, ribuan keluarga pengungsi berisiko menghadapi kondisi yang semakin buruk dalam beberapa pekan ke depan. (Red)