Asep Dahlan: Minyak Berpotensi Melonjak dan Saham Terkoreksi

by
Asep Dahlan, pendiri Dahlan Consultant. (Foto: Istimewa)

BERITABUANA.CO, JAKARTA  — Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi mengguncang pasar keuangan global jika berkembang menjadi konflik terbuka. Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, menilai eskalasi militer di kawasan Timur Tengah dapat memicu lonjakan harga energi hingga tekanan di pasar saham dan kripto dalam waktu singkat.

“Pasar tidak suka ketidakpastian. Geopolitik adalah salah satu pemicu volatilitas terbesar,” kata pria yang akra, yang akrab disapa Kang Dahlan, saat dihubungi, Minggu (1/3/2026).

Menurut dia, dampak paling cepat akan terlihat pada harga minyak mentah. Iran merupakan salah satu produsen utama dunia dan berada di sekitar jalur strategis Selat Hormuz, pintu distribusi energi global. Risiko gangguan pasokan, kata dia, akan segera direspons pasar melalui kenaikan harga.

“Minyak berpotensi melonjak tajam karena pasar mengantisipasi kemungkinan terganggunya distribusi, meskipun secara fisik belum tentu terjadi,” ujarnya.

Lonjakan harga minyak berisiko memicu tekanan inflasi baru, terutama bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia. Jika harga energi meningkat berkepanjangan, bank sentral di berbagai negara dapat menahan bahkan membatalkan rencana pelonggaran suku bunga.

Selain energi, aset lindung nilai seperti emas dan perak diprediksi menguat. Dalam situasi konflik, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman. “Dalam ancaman perang, emas dan perak hampir selalu menjadi tujuan utama investor,” kata Kang Dahlan.

Sebaliknya, pasar saham global berpotensi terkoreksi seiring meningkatnya sentimen risk-off. Investor, menurut dia, biasanya mengurangi eksposur pada aset berisiko tinggi, termasuk saham di negara berkembang.

Tak hanya itu, aset kripto juga dinilai rentan tertekan lebih dalam. Meski kerap disebut sebagai emas digital, kripto masih dipandang sebagai instrumen berisiko tinggi saat terjadi kepanikan pasar.

“Kripto biasanya turun dalam karena investor memilih likuiditas dan aset konvensional yang dianggap aman,” ujarnya.

Kang Dahlan menilai reaksi pasar akan sangat bergantung pada durasi dan skala konflik. Jika ketegangan berlangsung singkat dan tidak mengganggu jalur perdagangan utama, gejolak bisa mereda relatif cepat. Namun jika konflik meluas dan menyeret kekuatan global lain, volatilitas berpotensi bertahan lebih lama.

Ia menyarankan investor domestik untuk tidak mengambil keputusan secara emosional. Diversifikasi portofolio, menjaga porsi kas, serta menempatkan sebagian dana pada aset defensif dinilai lebih rasional dalam situasi penuh ketidakpastian.

“Yang terpenting adalah manajemen risiko. Jangan bereaksi berlebihan, tetapi juga jangan mengabaikan potensi dampaknya,” kata Kang Dahlan. (Ery)