Kilang China Bayar Premium Minyak Iran Pertama Kali, India Kembali Impor Setelah 7 Tahun

by
Kilang minyak China. (Foto: Dok. Al-Jazeera)

BERITABUANA.CO, JAKARTA — Kilang minyak independen China, dikenal sebagai “teapot”, membeli minyak mentah Iran dengan premi terhadap harga Brent untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, menandai pembalikan harga dramatis yang dipicu gencatan senjata AS-Iran serta kembalinya India sebagai pembeli setelah tujuh tahun vakum akibat sanksi.

Pasar minyak global bergejolak sejak konflik Februari yang mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz. Pengumuman Presiden Donald Trump pada 7 April tentang gencatan senjata dua minggu, syaratnya buka kembali Selat Hormuz, langsung tekan harga Brent di bawah $100 per barel.

Akibatnya, setidaknya dua kilang di Dongying, pusat pengolahan independen di Shandong timur, beli kargo Iranian Light dengan premi $1,50 hingga $2 per barel di atas ICE Brent awal pekan ini, kata sumber perdagangan kepada Reuters. Sebelum perang, minyak Iran diskon $10 per barel dari benchmark internasional.

Kembalinya India Ubah Dinamika Pasar

India, importir minyak terbesar ketiga dunia, menerima muatan pertama sejak 2019 minggu ini. State-owned Indian Oil Corporation beli pengiriman via tanker Curacao-flagged Jaya yang tiba di pantai timur India setelah dialihkan dari Asia Tenggara, di mana awalnya ditargetkan ke China.

Tanker kedua, Jordan, juga sinyal tujuan India berdasarkan data pelacakan LSEG dan Kpler. India hentikan impor Iran Mei 2019 pasca Washington cabut waiver sanksi, tapi waiver sementara AS baru-baru ini buka pintu untuk minyak dan produk olahan Iran via laut guna redakan krisis pasokan global.

Kembalinya India potensial geser dominasi China, yang serap lebih 80% minyak Iran yang dikirim tahun 2025 menurut Kpler. Ekspektasi ini sendiri dorong harga lebih tinggi bagi pembeli China.

Tantangan bagi Kilang China dan Prospek Damai

Kilang China hadapi margin tipis meski Beijing keluarkan kuota impor baru 55 juta ton metrik untuk independen dan perintah jaga produksi bahan bakar. Premi hilang tekan biaya operasi, tapi kuota bantu stabilkan pasokan domestik.

Delegasi AS-Iran dijadwalkan konferensi di Islamabad hari ini untuk negosiasi kesepakatan abadi, sementara analis Jefferies ramal harga minyak tetap di atas level pra-perang berbulan-bulan bahkan skenario terbaik.

“Jendela ini rapuh; perdamaian Hormuz bisa stabilkan pasar, tapi eskalasi baru picu lonjakan harga ekstrem. China, importir terbesar dunia, kini diversifikasi sumber sambil pantau negosiasi,” kata analis energi Jefferies dalam catatan riset, sebagaimana dikutip Jumat (10/4/2026).

Dampak Lebih Luas ke Ekonomi Global

Perubahan ini riak ke harga BBM global dan inflasi. OPEC+ mungkin sesuaikan output jika pasokan Iran pulih penuh. Bagi Indonesia sebagai produsen dan importir, fluktuasi ini pengaruhi neraca perdagangan minyak; Pertamina pantau ketat untuk lindungi konsumen domestik.

Pasar was-was kestabilan, apakah gencatan senjata jadi perdamaian tahan lama, atau hanya jeda sementara sebelum konflik baru? (Red)