Kasus Bocah di Ngada, Melki Laka Lena: Tamparan Keras Nurani dan Kemanusiaan

by
Gubernur NTT, Melki Laka Lena. (iir)

BERITABUANA.CO, KUPANG – Kasus bocah berusia 10 tahun di Desa Jerebu’u Kabupaten Ngada, merupakan tamparan keras bagi nurani dan kemanusiaan bersama.

Demikian disampaikan Gubernur NTT, Melki Laka Lena di UCB Kupang, Rabu (4/2/2026) terkait kematian bocah akibat bunuh diri.

“Ini juga sekaligus pengingat, bahwa masih terdapat celah serius dalam sistem perlindungan sosial, yang harus segera dibenahi, agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi,” pinta Melki Laka Lena.

Sebagai Gubernur Provinsi NTT, pihaknya menyampaikan duka cita mendalam dengan kejadian yang terjadi di Jerebu’u, Kabupaten Ngada.

“Saya mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga. Kita berdoa agar anak kita yang tercinta ini diterima di sisi Tuhan, dan peristiwa ini menjadi pelajaran yang sangat berharga, agar kejadian serupa tidak pernah terulang di seluruh pelosok NTT,” ungkap Melki Laka Lena.

Setelah menerima informasi kejadian tersebut, Melki Laka Lena telah berkoordinasi langsung dengan Bupati dan Wakil Bupati Ngada, serta jajaran pemerintah dan unsur non-pemerintah di daerah.

“Pemerintah memastikan proses pemakaman dilakukan dengan layak, serta mendorong penyelesaian seluruh persoalan sosial dan adat yang menyertai peristiwa ini,” aku Melki Laka Lena.

Lebih jauh, Melki Laka Lena menegaskan pentingnya perbaikan dan penguatan sistem pengaman sosial, agar kasus serupa dapat dicegah sejak dini.

“Salah satu perhatian utama adalah pendataan dan administrasi kependudukan, yang menjadi syarat penting, agar masyarakat miskin dapat mengakses bantuan sosial,” ujar dia.

Untuk itu, Gubernur menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah dari tingkat provinsi hingga desa termasuk Camat, Lurah, Kepala Desa, RT/RW serta mengajak tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, dan perempuan untuk bersama-sama aktif mendata dan memastikan tidak ada warga miskin yang terlewat, terutama mereka yang berpindah domisili dan belum tertib administrasi.

Pemerintah Provinsi NTT juga tengah menyiapkan mekanisme respons cepat lintas sektor agar kasus-kasus darurat sosial dapat segera ditangani tanpa terhambat birokrasi, termasuk kemungkinan pembentukan skema bantuan sosial darurat berbasis solidaritas.

“Ini harus menjadi kejadian terakhir. Tidak boleh ada lagi anak-anak atau keluarga miskin di NTT yang kehilangan masa depan karena keterlambatan sistem kita,” tegas Melki Laka Lena.

Menurut Gubernur, peristiwa ini bukan semata-mata tragedi keluarga, melainkan kegagalan kolektif berbagai sistem baik pemerintahan, sosial, budaya, keagamaan, dan pendidikan, dalam mendeteksi lebih dini, serta memberikan pertolongan yang cepat dan tepat kepada warga yang membutuhkan, terutama anak-anak dan keluarga kurang mampu.(iir)