BERITABUANA.CO, JAKARTA – Pasar modal Indonesia diramal bakal bergejolak. Itu yang diyakini bakal terjadi berkaitan dengan rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) menerapkan metodologi baru dalam perhitungan indeks yang diproyeksikan dapat memicu volatilitas jangka pendek di pasar saham domestik.
Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan dalam risetnya seperti dikutip Senin (26/1/2026) menjelaskan bahwa pengetatan aturan ini akan berdampak langsung pada bobot saham emiten. Terutama bagi konstituen baru maupun saham dengan kapitalisasi pasar besar.
Metodologi baru tersebut mencakup perhitungan bobot awal yang lebih konservatif bagi saham-saham yang baru masuk indeks. Akibatnya, nilai proporsinya menjadi lebih kecil dibandingkan metode sebelumnya. Jika MSCI menerapkan perubahan metodologi ini, potensi terciptanya volatilitas cukup tinggi di pasar dalam jangka pendek, sangat besar. Terutama terhadap saham-saham yang memiliki eksposur untuk masuk indeks MSCI.
Selain aturan saham baru, MSCI juga berencana memperketat perhitungan Foreign Inclusion Factor (FIF), faktor penentu porsi saham yang dapat dimiliki dan diperdagangkan oleh investor asing.
Phintraco dalam laporannya menyebutkan, penurunan nilai FIF pada suatu emiten berisiko mengecilkan bobot saham tersebut dalam indeks, yang pada gilirannya dapat memicu aksi penyesuaian portofolio oleh investor institusi global.
MSCI berencana memperbarui perhitungan free float mengacu laporan dari KSEI
MSCI berencana memperbarui perhitungan free float dengan mengacu pada laporan dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai sumber data tambahan. Dalam hal ini, MSCI menyiapkan dua skenario perhitungan, yakni proposed methodology dan alternate methodology.
Pada skenario pertama, porsi free float sejumlah emiten berkapitalisasi besar terancam menyusut signifikan karena MSCI akan mengategorikan kepemilikan korporasi, saham warkat, serta kategori lainnya sebagai saham non-publik.
Skenario kedua atau alternate methodology diproyeksi memberikan dampak lebih terbatas karena kategori non-publik hanya mencakup saham warkat dan kepemilikan korporasi. Valdy Kurniawan menyebutkan, penurunan free float pada skenario tersebut relatif lebih terbatas jika dibandingkan skenario pertama, proposed methodology.
Statistik Bursa Efek Indonesia (BEI) mendata, IHSG dalam periode sepekan ini turun 1,37% dari 9.075,40 menjadi 8.951,01. Indeks komposit tak mampu mempertahankan tren positif usai mencapai level tertinggi baru (ATH) pada penutupan Selasa (20/1/2026).
Setelah menyentuh level ATH baru di 9.134 itu, IHSG dalam tiga hari perdagangan berikutnya berturut-turut berada dalam zona merah. Pada perdagangan Jumat (23/1), indeks komposit ditutup merosot 0,46% atau 41,17 poin.
Dalam rentang 19-23 Januari 2026 ini, tercatat net sell asing sebesar Rp3,25 triliun. Pasar saham pekan ini dilanda aksi jual asing, berbeda dengan pekan sebelumnya yang mencatat net buy asing sebesar Rp4,20 triliun.
Ingatlah, jika ingin berinvestasi harap mencermati berbagai faktor pendukung yang ada. Ambillah keputusan dalam kondisi, dan pikiran tenang, sehingga keputusan yang ada, tidak melenceng jauh. (Osc).







