BERITABUANA, BOJONEGORO – PT Pertamina EP Cepu ( PEPC), anak perusahaan dari Pertamina Hulu Energi, tidak saja piawai dalam memproduksi minyak mentah dan gas bumi. Tapi ternyata juga mampu menciptakan lapangan kerja melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM).
Setidaknya, ada tiga yang menjadi sasaran PPM PEPC. Pertama UMKM Bolo JTB – Batik Sekar Rinambat, di Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro. Kedua, program Biru Langit Jambaran – Tiung Biru melalui Agrosilvopastura, di Desa Ngasem, Bojonegoro. Ketiga, Program Biru Langit Jambaran – Tiung Biru: melalui pengelolaan Limbah domestik terintegrasi atau dinamakan “Si Imut My Darling”, di Desa Sendangharjo, Ngasem.
UMKM Bolo JTB – Batik Sekar Rinambat, adalah nama unit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang di sasar PEPC, memfokuskan kepada sebuah pengrajin pembatikan.
Tri Astutik, ketua dari Kelompok Batik Sekar Rinambat mengaku bahwa dirinya memulai menekuni usaha pembatikan tersebut dari nol, pada tahun 2016 bersama PEPC.
Tri tanpa putus ada terus mengikiti arahan-arahan yang diberikan oleh pendamping atau pembinaan oleh PEPC, dengan tekun dan tanggung jawab mempelajari tehnik dasar membantuk.
Dengan jerih payahnya itu, Ibu Titik, biasa Tri Astutik disapa, berhasil menyerap semua ilmu yang diberikan pendamping dari PEPC tersebut. Dan mulailah beliau bergerak.
Mengawalinya dengan membuat kelompoknya sendiri, dan dibagi menjadi 5 kelompok. Dan kemudian Ibu Titik menamainya “Sekar Rinambat”. Filosofi dari nama itu adalah ” Bunga yang Merambat”, yang menyebar luas bagaikan bunga merambat. Atau bisa diartikan bisnis membantik yang dijalankannya terus berkembang dan berkembang.
Melalui UMKM batik, Ibu Tutik tidak saja mampu mengembang diri, tapi juga membangun kualitas batik-batik dalam bersaing dipasaran, dan menciptakan lapangan kerja bagi kaum perempuan. Dan batik-batiknya juga semakin berkembang penuh inovatif, dan menggelembung dengan bermacam motif dan memiliki nilai jual yang tinggi.
UMKM Batik Ibu Tutik terus naik kelas berkat dukungan PECP Zona 12. Diikutkan berbagai pameran, bazar-bazar dan sejenisnya. Perbantuan pelatihan manajerial, pemasaran, hingga akses ke pasar yang lebih luas.
Hilang sudah kenangan awal yang hanya bisa membatik 10 lembar batik ukuran 2 meter per hari. Menjadi bisa 100 per hari dengan bermacam ukuran tergantung pemesanan dan dijual bebas.
Harga dan kualitas pun, batik Ibu Tutik tidak kalah bersaing. Yang murah ada, dan yang mahal pun ada. Dari mulai harga Rp 160 – Rp 700 ribu. Dan batik yang paling digandrungi dari batik Ibu Tutik adalah batik Tengul. Motif Tengul bisa terjual sampai ribuan per bulannya.
Nah! Inilah suatu bukti nyata komitmen PECP dalam memberdayakan masyarakat sekitar. Sudah nyata dan terbukti keberhasilan Batik Sekar Rinambat yang mampu meraih omzet puluhan dan bahkan ratusan juta.
Pemasaran Batik sudah tidak hanya di desa sekitar, tapi juga sudah menembus pasar luar kota. Ibu Tutik pun kelompok-kelompok terus berkembang.

Lingkungan dan Peluang Ekonomi
Hal lainya yang menjadi sasaran PPM PEPC Zona 12, adalah sampah rumah tangga yang biasanya hanya menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), kini disulap menjadi sumber energi, pakan ternak, hingga kompos di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro.
Lewat program “Si Imut My Darling” atau Integrasi ikan maggot, unggas, dan ternak bersama masyarakat sadar lingkungan berhasil mengubah persoalan lingkungan menjadi peluang ekonomi.
Program ini telah menghadirkan manfaat nyata bagi keluarga desa. Perempuan-perempuan tangguh asal desa Sendangharjo yang tergabung dalam gerakan bank sampah bisa menambah penghasilan. Remaja desa pun ikut mengelola kolam lele, ayam petelur, hingga kambing dengan pakan maggot dari sampah organik.
“Sampah yang dulu jadi masalah, kini bisa jadi sumber rezeki. Dari dapur langsung masuk ke tempat pengelolaan budidaya maggot, sementara plastik kami olah jadi bahan bakar alternatif,” tutur Edi Arto, Officer Community Relation and CSR PEPC Zona 12, Kamis (18/9/2025) Sebanyak 23 ibu rumah tangga yang tergabung dalam bank sampah menjadi penggerak utama. Mereka menimbang sampah, mengedukasi tetangga, hingga membagikan tas khusus agar warga terbiasa memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.
“Dulu kami hanya kumpulkan botol bekas dari proyek. Tapi saat pandemi sebagian dari kami dirumahkan sehingga semakin serius untuk mengembangkan bank sampah. Alhamdulillah, sekarang setiap bulan bisa kumpulkan 300–400 kilogram sampah,” ujar Ujang, perwakilan Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSM-KH).
Bagi mereka, aktivitas ini bukan sekadar menjaga lingkungan. Hasil penjualan sampah terpilah turut menambah penghasilan keluarga. Sampah organik diolah jadi pupuk atau pakan, sementara sampah anorganik dijual untuk didaur ulang. Sementara itu peran remaja desa tak kalah menonjol. Mereka mengelola kandang kambing, kolam lele, hingga ayam petelur. Semua pakan hewan sebagian besar berasal dari maggot, larva lalat yang dibudidayakan dari sampah organik.
“Dengan maggot, 85 persen kebutuhan pakan hewan kami terpenuhi. Biaya pakan berkurang drastis, hasil ternak tetap melimpah,” kata Ujang dengan senyum lebar.
Dari maggot lahirlah lele segar untuk lauk makan malam. Dari ayam petelur, keluarga mendapat asupan gizi. Dari kompos, sawah menjadi lebih subur. Semua berawal dari sampah dapur yang dulu dianggap tak berguna.
Kini, Desa Sendangharjo mampu mengolah hingga satu ton sampah per hari, dan ditargetkan bisa mencapai dua ton. Lebih dari sekadar mengurangi timbunan sampah, program ini membentuk kesadaran baru bahwa sampah punya nilai jika dikelola dengan benar.
“Ini bukan hanya program pemberdayaan, tapi menjadi ssbuah gerakan bersama. Kami ingin anak-anak di desa tumbuh dengan kebiasaan mencintai dan mengharhai alam lingkungan,” tambah Edi Arto. (Kds)







