BERITABUANA.CO, JAKARTA – Kementrian ESDM menargetkan revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk periode 2025-2034 dapat difinalisasi dalam waktu sepekan ke depan.
“Belum (terbit). Satu minggu lagi,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, Jumat (17/1/2025).
Sebelumnya, Bahlil menilai, apabila mengacu pada draft RUPTL ini, kebutuhan investasi untuk mendanai proyek EBT ditaksir Rp 1.100 triliun. Dengan rincian, investasi interkoneksi jaringan listrik sebesar Rp 400 triliun dan pembangkit sekitar Rp 600-700 triliun.
“Kalau untuk jaringannya sendiri, itu butuh kurang lebih sekitar Rp 400 triliun lebih ya. Kalau untuk power plant-nya, itu sekitar Rp 600-700 triliun,” ujar Bahlil ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Rabu (15/1/2025).
Bahlil menilai untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8% di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, maka dibutuhkan peningkatan kapasitas pembangkit listrik yang cukup besar.
“Jadi, ada target maksimal, ada target menengah, ada target paling rendah. Artinya pengadaan power plant itu tergantung dari kebutuhan dan pertumbuhan ekonomi. Jadi kita sesuaikan, dan kita sudah menyiapkan sampai dengan target 8%,” ujarnya. (Kds)







