BERITABUANA.CO, JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah mata uang Garuda menyentuh level Rp17.607 per dolar Amerika Serikat di pasar offshore pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas daya beli masyarakat, biaya impor, hingga potensi kenaikan harga kebutuhan pokok dalam beberapa waktu ke depan.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, penguatan dolar AS, serta kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Pelaku pasar juga mencermati kondisi fiskal sejumlah negara berkembang yang dinilai rentan terhadap arus keluar modal asing.
Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan atau yang akrab disapa Kang Dahlan, menilai pelemahan rupiah saat ini bukan sekadar persoalan nilai tukar, tetapi juga menjadi sinyal bahwa masyarakat perlu memperkuat ketahanan finansial pribadi.
Menurut Kang Dahlan, tekanan terhadap rupiah berpotensi memicu kenaikan harga barang impor, biaya pendidikan luar negeri, tarif perjalanan internasional, hingga harga bahan baku industri yang pada akhirnya berdampak pada inflasi domestik.
“Ketika rupiah melemah sampai di atas Rp17.600 per dolar AS, dampaknya akan terasa langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat. Harga kebutuhan bisa naik bertahap karena biaya distribusi dan impor meningkat,” kata Kang Dahlan, melalui keterangan tertulisnya, Jumat (15/5/2026).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut juga dapat menekan pelaku usaha kecil dan menengah yang masih bergantung pada bahan baku impor atau memiliki kewajiban pembayaran dalam mata uang asing.
Di tengah tekanan tersebut, Kang Dahlan mengingatkan masyarakat agar tidak panik ataupun mengambil keputusan finansial secara emosional. Ia menilai langkah terpenting saat ini adalah menjaga likuiditas dan memperkuat pengelolaan keuangan keluarga.
Kang Dahlan menyarankan masyarakat mulai mengurangi pengeluaran konsumtif, terutama untuk barang impor dan kebutuhan non-prioritas. Selain itu, ia mendorong masyarakat memperbesar dana darurat minimal untuk kebutuhan enam hingga 12 bulan.
“Situasi seperti ini menuntut masyarakat lebih disiplin mengatur cash flow. Jangan mudah tergoda gaya hidup tinggi ketika kondisi ekonomi global sedang tidak stabil,” ujarnya.
Ia juga menyarankan masyarakat untuk mulai melakukan diversifikasi aset guna menjaga nilai kekayaan dari tekanan inflasi dan pelemahan mata uang. Menurutnya, instrumen seperti emas, deposito berjangka, maupun investasi berbasis sektor riil dapat menjadi alternatif perlindungan nilai.
Bagi pelaku usaha, Kang Dahlan meminta perusahaan mulai melakukan efisiensi operasional dan memperkuat penggunaan produk lokal agar tidak terlalu bergantung pada impor. Langkah itu dinilai penting untuk menjaga stabilitas usaha di tengah volatilitas nilai tukar.
Selain faktor eksternal, Kang Dahlan menilai pemerintah dan otoritas moneter perlu menjaga kepercayaan pasar melalui stabilitas fiskal, pengendalian inflasi, serta kepastian kebijakan ekonomi nasional.
“Yang paling penting sekarang adalah menjaga kepercayaan publik dan investor. Kalau kepercayaan terjaga, tekanan terhadap rupiah bisa lebih terkendali,” katanya.
Meski demikian, Kang Dahlan optimistis rupiah masih memiliki peluang untuk kembali stabil apabila kondisi global membaik dan arus investasi asing kembali masuk ke pasar domestik dalam beberapa bulan mendatang. (Ery)







