Putu Raka: Provinsi NTT Bebas Penyakit Mulut dan Kuku

by
Kepala Baratin Perwakilan NTT, Putu Raka diapit para nara sumber. (Foto: iir)

BERITABUANA.CO, KUPANG – Provinsi NTT saat ini masih bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), sehingga menjadi nilai tawar yang tinggi terhadap komoditas ternak yang dimiliki.

Hal ini diakui Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) NTT, Ida Bagus Putu Raka Ariana saat membuka kegiatan Sosialisasi Perkarantinaan di Swiss Bellcourt Hotel, Kamis (15/8/2024).

“Dari beberapa daerah yang sumber ternaknya relatif besar untuk mensuplay, hanya Provinsi NTT yang masih bebas dari PMK,” ujar Putu Raka.

Dikatakan Putu Raka, dari struktur organisasi satuan pelayanan, BKHIT memiliki 14 pos, mulai dari Labuan Bajo sampai Pos Lintas Batas Negara (PLBN).

“Untuk itu peran serta masyarakat kami butuhkan, sehingga pelaksanaan tindak karantina bisa berhasil, terutama bisa menjaga wilayah dari berbagai ancaman penyakit,” ujar Putu Raka.

Diakui Putu Raka, meski bebas PMK, tapi ada beberapa penyakit masih bertahan di Provinsi NTT, seperti penyakit African Swinw Fever (ASF) yang menyerang peternakan babi.

“Masuknya penyakit itu luar biasa. Awal-awal kejadian sekitar 80-90 persen angka kematian, tapi sekarang relatif menurun. Hal ini disebabkan adanya program vaksinasi yang terus berjalan, sehingga kasus itu bisa diminimalisir,” ungkap Putu Raka.

Begitu juga dengan penyakit rabies, kata Putu Raka, hampir seluruh daratan di Provinsi NTT ini tertular. Tahun 2013 mulai dari Flores lalu merambah ke kabupaten lainnya.

“Meskipun Daratan Sumba bebas Rabies, tapi Daratan Timor ini seluruh kabupaten sudah terjangkit, dan kejadian kematiannya sudah paling tinggi, artinya antara kasus gigitan dengan kematian, justru kita paling tinggi di seluruh Indonesia,” terangnya.

Padahal, lanjut Putu Raka, pihaknya berharap daerah yang masih bebas ini dipertahankan, dengan di back up semua pihak..

Dijelaskan Putu Raka, pelaksanaan tindak karantina ini lebih utama dalam menjaga wilayah, khususnya Provinsi NTT agar bebas dari penyakit hewan, ikan dan tumbuhan.
.
Pada kesempatan tersebut, Putu Raka menjelaskan, untuk produk tumbuhan yang dihasilkan dari Provinsi NTT, relatif besar dan baik, seperti pisang, mente, kemiri dan kelapa.

“Pisang kita dari Flores begitu banyak, tapi saya perhatikan setiap hari harga pisang disini relatif murah. Kasihan juga para pemilik kebunnya,” aku Putu Raka.

Menurut Putu Raka, Pulau Jawa memiliki konsumen yang cukup banyak, akan tetapi harus ada alternatif dalam pengirimannya, mengingat jarak cukup jauh.

“Kalau bisa dibawa ke Pulau Jawa saja, itu sangat luar biasa. Tapi kalau pengirimannya dari DaratanTimor dengan jarak cukup jauh, dikhawatirkan ketika tiba di sana, buahnya sudah masak,” ujar dia.

Dikatakan Putu Raka, ini beberapa hal yang menjadi perhatian semua stakeholder yang terlibat dalam tindak karantina, harus mempunya komitmen bersama.

“Kalau satu penyakit sudah masuk ke suatu daerah, maka selain kerugian ekonomi juga kerugian sosial,” keluh Putu Raka.

Sebagai nara sumber pada Sosialisasi Perkarantinaan tersebut, selain dari BKHIT NTT, juga Dari Dinas Peternakan NTT, Ombudsman Perwakilan NTT, Kejaksaan Tinggi NTT, Direktorat Kriminal Khusus Polda NTT, dan Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara Polda NTT. (iir)