Siti Zuhro: Pemilu 2024, Jangan Lagi ‘Jualan’ Isu SARA

by
Ahli Peneliti Utama Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siti Zuhro. (Foto: Jimmy)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Pemilihan umum (Pemilu) 2024, baik Pilpres maupun Pileg diharapkan tidak lagi ‘jualan’ isu SARA (Suku, Agama, Ras, Antargelongan) serta politisasi identitas. Sebab selain konyol, hal itu juga berdampak luar biasa menyakitkan, karena antar suku dan agama diadu domba serta diacak-acak.

Demikian ditegaskan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siti Zuhro dalam acara Diskusi Empat Pilar MPR dengan tema ‘Menebar Nilai Kepahlawanan dalam Kontestasi Politik Nasional’ kerjasama Biro Humas dan Sistem Informasi Setjen MPR dengan Koordinatoriat Wartawan Parlemen, di Media Center Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (15/11/2021).

Siti juga menekankan kepada partai-partai politik (Parpol), jangan pula mencari sosok yang menimbulkan polemik, namun tetap dicalonkan.

“Jadi kalau sudah terstigma negatif dan punya cacat yang luar biasa, ya sudah. Kita harus betul-betul tegas untuk mengatakan itu. Masyarakat harus diajarkan dalam demokrasi participatory untuk ikut mengawal, sehingga ada nuansa bottom up dan tidak didikte oleh konglomerat maupun oligarki,” kata peneliti senior LIPI ini lagi.

Dikatakan Siti, semakin banyak calon presiden, merepresentasikan penduduk yang majemuk. Hal itu juga meminimalisir ancaman terjadinya disharmoni masyarakat. Oleh karena itu, biarkan bila ada sosok yang berasal dari berbagai daerah.

“Jangan hanya didominasi capres dari Indonesia Barat saja, agar lebih terasa keindonesiaan muncul. Sudah saatnya memunculkan sosok calon yang sarat dengan nilai kepahlawanan dan keberpihakan kepada NKRI,” tegasnya.

Hal itu juga bisa memutus sedikit demi sedikit mata rantai vote buying, yang merupakan penyakit. Sebab sekali saja mentoleransi praktek vote buying dan praktek transaksional, maka muncul distorsi yang akhirnya berpengaruh terhadap munculnya pemimpin yang bukan terbaik.

“Jangan lagi kita diberikan hanya dengan dua pasangan calon. Biarlah sesuai dengan kemajemukan kita, muncul beberapa pasangan calon seperti Pilpres 2004 dan 2009. Sudah saatnya kompetisi kontestasi politik nasional 2024 diisi dengan sehat, betul-betul berkualitas, berintegritas. Akhirnya, siapapun yang menang, tidak perlu lagi seperti kemarin,” tandasnya. (Jimmy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *