Pengamat: KLB Demokrat Sibolangit untuk Kudeta AHY, Sudah Disetting Rapih

by
Partai Demokrast.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Konflik di tubuh Partai Demokrat yang melahirkan dualisme kepengurusan sudah diprediksi sejak awal. Bahkan, terpilihnya Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal TNI (Purn) Moeldoko sebagai ketua umum versi KLB Sibolangit, sudah diatur (setting) secara rapih oleh Johnny Allen Marbun Cs.

Penilaian ini disampaikan Direktur Political And Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie saat dihubungi, Selasa (9/3/2021), diminta tanggapannya terkait konflik dalam tubuh partai berlambang ‘Bintang Mercy’ besutan Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY tersebut.

Jerry mengatakan, kini kedua kubu saling melaporkan ke Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), utamanya kubu Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY yang mengklaim sebagai kepengurusan yang sah. Tapi bukan tidak mungkin, kubu Moeldoko juga bisa mendapatkan surat keabsahaan dari pemerintah.

“Memang di Indonesia soal rebut merebut partai sudah tak lazim lagi. Ilustrasinya: si A yang mendirikan dan membesarkan, tapi si B yang mencaplok atau take over mengambil alih sudah hal yang lumrah,” katanya.

Bahkan ia menganggap kalau linguistik verbal politik Moeldoko memang sejak awal agak mencurigakan, sehingga dirinya menduga hal ini sudah dipersiapkan secara matang dan mapan. Kunci utama hingga Moeldoko diusung oleh para tokoh-tokoh penting yakni klaim menurunnya jumlah suara dan kursi di DPR RI.

“Jika merujuk pada hasil pemilu-pemilu sebelumnya, partai Demokrat menjadi partai yang ditakuti Golkar dan PDI Perjuangan pada tahun 2004 dan 2009,” sebut Jerry.

Dia menuturkan, pada Pemilu 2009, Partai Demokrat menjadi Pemenang Pemilu Legislatif 2009. Partai Demokrat memperoleh 148 kursi di DPR, setelah mendapat 21.703.137 total suara (20,4 persen).

Partai Demokrat meraih suara terbanyak di banyak Provinsi, hal yang pada pemilu sebelumnya tidak terjadi, seperti di Aceh, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Belum lagi, sambung Jerry, munculnya generasi ke-4 dan ke-5 yang kebanyakan duduk di posisi pimpinan Demokrat, yang paling tidak ada kecemburuan dari para senior dan pendiri partai. Di sisi lain, pendekatan persuasif dari AHY yang kurang hingga membuat sikap apatis terhadapnya.

“Sebetulnya jika Edhie Baskoro yang naik, maka lain lagi. Sebetulnya Edhie Baskoro lebih diterima di internal (Demokrat), ketimbang AHY,” bebernya. (Asim)

Leave a Reply

Your email address will not be published.