Fasum dan Pesan

by
Pembakaran Halte Busway

Oleh: Teddy Mihelde Yamin (Direktur Eksekutif Cikini Studi)

Teddy Yamin.

TIDAK ada yang membenarkan, jika ekses dari demonstrasi itu sendiri, hingga merusak fasilitas umum (fasum). Sekalipun atas nama memperjuangkan tuntutan. Sekalipun jamak di dunia ini, ketika melibatkan massa yang banyak, selalu saja berdampak kerugian harta benda yang besar. Apalagi sampai merusak fasum.

Walau selalu saja tak terbendung. Tetapi akhirnya sebagian juga maklum, jika ternyata harus begitu untuk memberi sinyal, pelajaran dan pengingat.

Terlepas dari siapa yang menunggangi dan ditunggangi, dan kejadian yang sama, sebenarnya merupakan pengulangan yang selalu terjadi ketika rakyat menuntut kepada penguasa negeri, di banyak tempat di dunia ini.

Di Indonesia sering kali juga begitu, amuk massa. Selain di zaman penjajahan yang berujung Kemerdekaan RI, barangkali banyak juga orang-orang tua kita yang masih hidup dan masih ingat peristiwa sejenis di periode Orde Lama atau bagi yang lebih muda di periode akhir Orde Baru, walau tak persis sama. Misalkan saja saat tuntutan Reformasi, penggantian rezim Orde Baru ke periode berikut, juga menghancurkan fasilitas umum di beberapa kota.

Bahkan waktunya beberapa hari, lebih lama dan Soeharto selaku Presiden RI saat itu tahu diri melihat tuntutan massa. Tidak memaksakan kehendaknya. Melihat dinamika yang berkembang bergegas menyatakan diri mundur.

Menyampaikan pesan dengan aman, damai dan bersih di Indonesia juga pernah mencatatkan rekornya. Sekalipun mengumpulkan massa lebih banyak lagi, jutaan orang berkumpul dengan tertib, sholat dan memohon di lapangan Monas, tetapi semua juga tahu bagaimana sesudahnya. Sekalipun tetap ada hikmahnya, tak semua pesannya diterbangkan angin.

Di seberang lautan berbeda lagi, di Hongkong misalnya, kerusuhan masif dan pengrusakan fasum berlangsung berbulan-bulan bahkan beberapa kali sempat melumpuhkan kota. Efek kerusakannya lebih besar lagi. Di China, Thailand, Korea Selatan, negara-negara jajirah Arab, Eropa atau di Amerika Serikat lebih gila lagi, bahkan harus berjilid- jilid untuk menyampaikan pesannya sampai ke penguasa. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *