Covid-19; Dampak, Prioritas Negara Dan Ketakutan Warga

by
Direktur Eksekutif Cikini Studi, Teddy Mihelde Yamin.

Oleh: Teddy Mihelde Yamin (Direktur Eksekutif Cikini Studi)

CORONA Virus alias Covid-19 ternyata bukan virus biasa, bahkan disebutkan bahwa virus asal Wuhan, Tiongkok itu bukan sekedar virus biologis yang menginfeksi manusia. Tetapi lebih dari itu, virus ini mampu menimbulkan kegoncangan dahsyat bagi seluruh warga dunia. Mengingat dampaknya yang besar ke berbagai sektor perekonomian warga dunia, disinyalir virus ini sengaja diciptakan terkait persaingan manusia di dunia ini.

Masalah kebenarannya, tentu jadi perdebatan, siapakah yang menciptakan? Siapakah yang bersaing?Jika dikaitkan dengan perang dagang USA versus China yang sementara ini seakan meredup, apakah pemainnya masih tetap diantara mereka?Persaingan demi hegemoni di dunia ini?Tetapi dalam dunia inteligen, pihak yang memetik keuntungan besar dari sebuah peristiwa patut diduga sebagai pemainnya.

Kemudian jika kita lihat kondisi saat ini, dimana semua negara terdampak, maka akan susah memastikan pihak yang bermain di sini. Walau sekarang jika kita lihat, seolah China mampu dengan cepat ‘survive’ dan seakan memenangi peperangan ini, lantas apakah bisa dipastikan China yang bermain? Belum tentu, walau China dengan cerdik dan strategis telah membeli banyak perusahaan yang ditinggal para investor dari negara negara Uni Eropa dan USA yang selama ini berinvestasi mengembangkan industrinya di China daratan. Tapi kini sebagian sudah beralih kepemilikan mayoritasnya ketika pemerintah China dalam arahan Xi Jinping memborongnya dengan penuh keyakinan, dengan harga tergolong murah. Beruntung secara ekonomi karena dibeli saat pemilik semula kuatir dengan kelanjutan beroperasi di China di tengah corona virus menggila di Wuhan kala itu. Dijual cepat saja. Jangan lupa, bahwa China memiliki cadangan devisa terbesar di dunia ini.

Sementara berbagai pasar saham, pasar uang dan pasar komoditi dunia jatuh tersungkur ke titik nadir, justru dari benua kuning sudah mulai ‘rebound’, sekalipun masih bervariasi.

Dan kini, ketika dunia disibukkan dengan berbagai strategi untuk menghadapi Covid-19, seperti pilihan lockdown, social distancing, atau herd immunity. Kembali kita dihadapkan pada ‘dilema’ mengingat ketiga cara yang umum dilakukan di berbagai negara di dunia ini memiliki kelebihan ataupun resiko ekonomi dan sosial politik yang tidak kecil sekaligus berkejaran dengan waktu.

Sengaja saya tidak menguraikan lagi secara detail apa saja kelebihan dan kekurangan dari ketiga cara tersebut. Tetapi jika kita ikuti berbagai pemberitaan, pilihan pada lockdown banyak dilakukan berbagai negara, mungkin saja pertimbangannya melihat dan mempelajari cara China memenangkan peperangan melawan Coronavirus tersebut. Tetapi banyak juga yang sebatas Sosial Distancing (SD) walau hasilnya juga bervariasi tergantung ketegasan dan keseriusan pemerintahnya menjalankan.

Yang pasti, semua cara mengaruskan warganya tinggal di rumah, jadi pasti berpengaruh pada tingkat produktivitas warganya dan benar-benar menguji ketahanan ekonomi negara negara terdampak. Dapat dibayangkan dalam 3-4 minggu bahkan mungkin lebih warga terkarantina dalam rumahnya masing-masing, perekonomian pastilah melambat bahkan berhenti. Tak terkecuali Indonesia. Di sinilah ujian dan dituntut ketahanan itu. Semakin lama dalam kondisi tak pasti maka dipastikan semakin dalam keguncangan itu.

Jika bicara lockdown berdampak besar pada perekonomian itu pasti, walau banyak negara melakukannya, termasuk negara tetangga ASEAN, hampir semua melakukannya. Cara ini dianggap tingkat keberhasilannya lebih tinggi, dibanding cara lain. Jika disebutkan Indonesia tak siap, karena besarnya pada sektor informal di Republik ini, besarnya ketergantungan kita pada sektor yang menggerakkan ekonomi domestik selama ini, bisa dibandingkan dengan India yang penduduknya jauh lebih besar dan ketergantungan negaranya pada sektor informalnya juga tak kalah besar.

Dengan melakukan ‘social distancing’ sekarang ini saja, begitu banyak rakyat yang bekerja di sektor informal terdampak, rakyat yang berpenghasilan pas pasan, penghasilan hari ini untuk dimakan esok hari telah terdampak, apalagi jika harus lock down atau karantina wilayah.

Jika kondisi ini terus berlangsung, dipastikan corona virus mengantarkan banyak negara dunia terjebak resesi ekonomi berkepanjangan. Resesi yang jika tak dikelola baik akan berdampak ke berbagai masalah, termasuk politik di masing-masing negara.

Lockdown di Indonesia disangsikan kesiapan pemerintah, membagi makan warganya yang tinggal di rumah karena butuh makanan. Walau terbatas pada keluarga yang tak mampu saja. Tetapi jika jumlahnya tidak kecil. Apalagi banyak kota/wilayah yang harus di-lockdown, maka semakin besar pula cadangan yang diperlukan.

Jadi jika ada sekarang pernyataan pejabat yang mengatakan anggaran untuk lockdown sudah tersedia, tinggal kesiapan logistik, pernyataan ini hampir susah dibedakan dengan hoaks. Karena jika sudah tersedia, mengapa harus mengajukan pinjaman ke badan dunia. Jika tanpa persiapan serius dan mempelajari cara dunia luar sukses melakukannya. Semoga saja tidak terlalu banyak pertimbangan di awal, kelak ketika jumlah korban tak terkendali pada akhirnya dilakukan juga. Ini lebih berbahaya.

Begitu juga dengan pernyataan bahwa projek pemindahan Ibu Kota jalan terus, selayaknya disudahi. Karena patut diduga hanya membesarkan semangat demi menaikkan citra. Tetapi seandainya memang begitu faktanya, menurutku, keterlaluan juga. Karena prioritas rakyat dan negara di banyak negara justru pada penyelamatan nyawa dan generasi mendatang. Di sinilah dibutuhkan kearifan dan kehadiran pemerintah melindungi segenap warganya.

Terus terang, ketakutanku yang utama jika pemerintah membiarkan kita pada kondisi ‘herd immunity’. Kita akan terjangkit secara bersama sama, bersyukur bagi yang fit dan dapat disembuhkan, survive dari kondisi ini. Hal ini mengingatku pada wabah cacar air. Sebaliknya yang tidak, bersiap menghadapi ajal. Ini yang membuatku paranoid, apalagi bagi yang pernah menderita sakit berat, dengan obat-obat yang keras, kuatir setengah mati dengan kemampuan organ tubuh yang tak maksimum lagi. Kuatir dengan kemampuan imun tubuh yang tak pasti.

Ketakutan lain bercampur frustasi ketika melihat anak-anak yang sedang tumbuh, kuatir dengan masa depan mereka. Ketakutan dengan generasi mendatang yang harus mati sia-sia. Apakah aku sendiri? Ternyata tidak, ada banyak warga yang bertanya hal yang sama. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *