“GEOECONOMICS” (Geo-ekonomi), satu instrumen ekonomi untuk mempercepat tujuan geopolitik. “Overlapping”-nya kedua instrumen ini, demi mencapai akselerasi tujuan ekonomi.
Kepergian Uni Arab Emirat (UAE) dari Organisasi Negara Eksportir Minyak (OPEC), tak lepas dari proyeksi kekuasaan negara ‘patron’ yang menaungi UAE selaku ‘client’.
Mundurnya negara kekuatan terbesar ke-3 OPEC (UAE), sebagai dampak dari tiga variabel: menjamin keterlibatan AS terhadap minyak UAE, ketergantungan keamanan UAE dari AS, perjanjian Abraham, telah merubah geo-ekonomi UAE dengan aliansinya bersama lima negara GCC lainnya.
Pengaruh geografis (geopolitik) tidak lagi menjadi mutlak, karena geo-ekonomi telah mengubah cara pandang UAE. Dari kepentingan kolektif (GCC), ke kepentingan ekonomi plus keamanan eksklusif.
UAE yang menderita, sebagai korban paling parah konflik geopolitik AS-Iran, telah menarik “benang merah” kekecewaan akut. Negara (UAE), sebagai “organisme hidup”, membutuhkan ruang hidup (labensraum) yang lebih pasti. Hanya AS jaminannya, GCC tidak!
Perspektif UAE, menjadi incaran paling ditarget Iran, karena faktualnya merupakan negara Arab paling bersahabat dengan Israel. Suka atau tidak, harus menuruti ‘roadmap’ ekonomi yang dimaui AS. Kepalang “lancung”!
Keluarnya UAE, implisit memang diinginkan AS. Arsitekturnya, dengan UAE ‘out’, maka OPEC akan kehilangan salah satu ‘ruh’ terkuatnya. Setidaknya, sebanyak 3,4-3,5 juta barel minyak per day (bpd) tak lagi masuk kuota organisasi. Tak lagi di rentang harga.
Peran AS sebagai kekuatan geo-ekonomi di kawasan Teluk, telah lama terlibat dalam kepentingan ekonomi dan keuangan UAE. Bukan hanya fasilitas militer, dan sistem pertahanan, semua hal telah menjadi kebutuhan urgen bagi kelangsungan para Sultan di negara Teluk.
Keluarnya UAE dari OPEC, sebentuk kekecewaannya pada respon politik kolektif negara GCC, dalam perang AS-Iran. Meninggalkan OPEC, menjadi alasan kolateral (sampingan), untuk menunjukkan bahwa tak ada lagi yang bisa diharap dari OPEC.
Keputusan UAE meninggalkan OPEC memperkuat posisi negara ini, sebagai favorit diplomatik Presiden AS, Donald Trump. “Abraham Accord” yang diprakarsai Trump (2020) dengan melibatkan: Israel-Maroko-Bahrain-UAE cukup menjadi konklusi, UAE akan selalu mengikuti arahan Trump.
Berkurangnya 3,4 juta barel per day (bpd) UAE, akan disubstitusi dengan peningkatan produksi ‘oil & gas’ menjadi 5 juta (bpd) dalam portofolio tahun 2027. Pasokan pun menjadi melimpah. UAE bebas, UAE tak punya lagi ikatan jumlah produksi harus sekian, dengan harga sekian. Harga minyak UAE bisa lebih murah, atau lebih mahal.
Meningkatkan produksi tambahan 1,5 juta bpd, akan mendegradasi harga, sekitar 5-10 persen. Pada situasi normal (damai) Selat Hormuz, UAE tak lagi terikat kuota OPEC, setidaknya bisa mempengaruhi harga minyak di bawah harga sebelum COVID. Sekitar USD 60-USD 67.
Kekuatan geo-ekonomi UAE, mulai memperlihatkan taji. Menarik deposito finansial USD 3,5 milyar (dolar) dari Pakistan, UAE menampakkan ketidaksukaannya pada kedekatan dan netralitas Pakistan terhadap Iran.
Geo-ekonomi akan sangat efektif, terutama bila kelak perang AS-Iran, benar-benar telah berakhir. Keluarnya UAE dari organisasi yang didirikan tahun 1960 ini, secara otomatis menghapus perjanjian kolektif menyangkut produksi dan “fixed price” antara OPEC-UAE.
UAE yang resmi keluar OPEC per 1 Mei 2026, telah memberi kejutan pada 11 negara anggota lainnya. Tanpa “permisi” kepada “sang master” (Arab Saudi), UAE menjadi bagian penting dari kontribusi 30 persen produksi “Oil & Gas Timteng, kepada dunia.
Bagi UAE, keberadaannya di OPEC telah menghambat investasi infrastruktur dan perluasan produksi yang seharusnya bisa dioptimalisasi. Terlepas dari pengaruh AS-Israel, keputusannya mengakhiri enam dekade bersama OPEC, mencerminkan evolusi kebijakan fundamental market jangka panjang.
OPEC dan OPEC+ (tambah Rusia), secara historis telah mengelola pasokan minyak selama periode valatilitas. Data terbaru (Gulf News, 29 April 2026) menyebut, produksi OPEC turun 27 persen menjadi 20,79 juta barel per hari (bpd) kurun Maret. Setelah gangguan perang AS-Iran, mengurangi pasokan sebesar 7,88 juta bpd.
Pukulan Mengejutkan
Sebagai kartel terbesar minyak dunia, OPEC menjadi lunglai, akibat posisi AS-Iran yang tidak pasti. Belum ada pemenang perang, sehingga perang bisa berakhir. Tak juga ada yang kalah, agar ada negosiasi Selat Hormuz.
Bukan hanya minyak, gas yang juga menjadi bagian dari produksi UAE, bisa mengalami pergerakan harga ke bawah. Setiap fluktuasi harga minyak sebesar 1 USD, harga gas akan mengalami pergeseran 3, atau 4 sen dolar.
Bila UAE menaikkan kapasitas produksi, dari 3,4 (3,5) juta barel, menjadi 5 juta barel per hari, maka setidaknya harga gas di SPBU akan turun sebesar 40 sen dolar AS. Atau lebih ke bawah lagi.
Faktor “Geoeconomics” dan keputusan UAE, secara signifikan, pasti akan melemahkan posisi dan kemampuan OPEC memengaruhi harga minyak global. Skala produksi UAE yang besar, merupakan sejarah “kelam” yang menjadi gangguan berganda: Selat Hormuz dan jumlah produksi yang tak bisa dikendalikan.
Dua variabel tambahan penyebab keluarnya UAE dari OPEC (disamping faktor AS dan GCC yang acuh), kompetisi antara Arab Saudi-UAE di Yaman. Masing-masing memiliki proxi, Arab Saudi mendukung Pemerintah sah Yaman di Selatan (Sebelah Utara Houthi dukungan Iran), sementara UAE mendukung kelompok separatis Dewan Transisi Selatan (STC).
Variabel lain, kekuatan investasi UAE di “Tanduk Afrika”, telah mengganggu Arab Saudi sebagai pemimpin regional. Arab Saudi, secara langsung menantang UAE dalam menarik investasi asing. Semua, menjadi unsur melemahnya kohesifitas minyak sebagai alat pemersatu yang tergabung di dalam OPEC.
UAE, atas kedekatannya dengan AS-Israel, ingin fleksibilitas berbasis pasar, dan itu hanya bisa dilakukan bila dia tidak berada dalam “cangkang” yang bernama OPEC. Pasar minyak global, tentu menyambut baik langkah UAE. Optimalisasi produksi, membuat minyak akan banjir di pasaran. Hukum ekonomi berjalan.
Pertanyaannya, efektifkah UAE keluar dari OPEC saat ini? Selama Selat Hormuz masih ditutup Iran, masih dalam blokade AS, maka kebebasan UAE dalam produksi, menjadi mubazir. Namun bisa dipersiapkan sekarang.
Pelabuhan Fujairah (UAE), pusat penyimpanan minyak terbesar dekat Teluk Oman, bila perang AS-Iran berakhir sebelum 2027. Ditambah kemampuan UAE meningkatkan produksi sangat cepat, akan menjadi berkah pada dunia, termasuk Indonesia.
Pada akhirnya, baik faktor geopolitik, maupun geo-ekonomi, harus sejalan untuk memudahkan peningkatan produksi minyak global. UAE harus sabar menunggu, agar AS-Iran mencapai titik temu.
Bila tercapai, UAE menjadi negara dengan kemampuan geo-ekonomi yang signifikan. Sama seperti Iran dengan Selat Hormuz-nya, dan AS bersama kekuatan market-nya.
Selamat Tinggal OPEC, saya khawatir. Keluarnya UAE, akan diikuti oleh yang lain.
*Sabpri Piliang* – (Pengamat Timur Tengah/Anggota Dewan Redaksi www.beritabuana.co)







