Dibuat Oleh: Ahmad Ben Yusa, Arkan Al Iman Ramadha, Asep Didi Mulyadi, Niken, Nabila Mariama.*
– Dosen Pembimbing: Windy Gustia Wardani, S.KM., M.M.
PAMULANG – Segelas Es Kuwut yang menyegarkan mungkin terlihat sederhana bagi para mahasiswa Universitas Pamulang. Namun di balik ramainya pembeli, terdapat berbagai tantangan dan risiko yang harus dihadapi pelaku usaha setiap hari agar bisnis tetap berjalan.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan mahasiswa Universitas Pamulang dengan salah satu penjual Es Kuwut di lingkungan kampus, diketahui bahwa risiko terbesar dalam usaha tersebut berasal dari bahan baku yang mudah rusak. Jeruk, lemon, mentimun, gula, dan bahan segar lainnya memiliki masa simpan yang relatif singkat sehingga berpotensi menimbulkan kerugian apabila tidak habis terjual pada hari yang sama.
“Kalau pernah rugi sejauh ini alhamdulillah tidak banyak. Biasanya kerugian berasal dari bahan baku yang tidak habis terjual. Kira-kira sekitar Rp200 ribu,” ujar pemilik usaha Es Kuwut.
Meski nominal tersebut terlihat kecil, bagi pelaku usaha mikro kerugian tersebut tetap berpengaruh terhadap keberlangsungan usaha. Beruntung, pendapatan harian yang relatif stabil masih mampu menutupi biaya operasional sehingga usaha tetap berjalan.
Diversifikasi Produk untuk Mengurangi Risiko
Untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis produk, pemilik usaha menerapkan strategi diversifikasi. Selain menjual Es Kuwut, lapaknya juga menyediakan kopi instan, air mineral, dan berbagai minuman dingin lainnya.
Strategi ini terbukti membantu menjaga arus pendapatan ketika permintaan Es Kuwut menurun.
“Kalau saya jualan bukan hanya Es Kuwut saja. Ada juga kopi, air mineral, dan minuman lainnya,” jelasnya.
Diversifikasi produk menjadi salah satu bentuk mitigasi risiko yang umum diterapkan UMKM agar tetap memiliki sumber pemasukan alternatif ketika salah satu produk mengalami penurunan penjualan.
Risiko Peralatan Operasional
Selain bahan baku, kendala operasional juga pernah muncul akibat kerusakan peralatan usaha. Salah satunya adalah mesin cup sealer yang digunakan untuk menutup kemasan minuman.
Menurut pemilik usaha, mesin tersebut pernah mengalami kerusakan saat jam operasional sehingga menghambat proses penjualan. Pengalaman tersebut membuatnya lebih selektif dalam membeli peralatan usaha.
“Pernah mesin cup sealer bermasalah. Yang pertama saya beli murah, tetapi cepat rusak. Sekarang saya memilih membeli dari distributor resmi karena ada garansi dan bisa diperbaiki jika terjadi kerusakan,” ujar pemilik usaha.
Keputusan menggunakan peralatan yang memiliki layanan purna jual menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko gangguan operasional di masa depan.
Ancaman Keselamatan dari Instalasi Listrik
Risiko lain yang tidak kalah penting adalah aspek keselamatan kerja. Lapak yang memiliki ruang terbatas menyebabkan beberapa kabel listrik berada dekat dengan sumber air, sehingga berpotensi menimbulkan korsleting maupun kebakaran.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemilik usaha secara rutin memeriksa kondisi kabel dan sambungan listrik sebelum memulai aktivitas penjualan.
“Setiap hari saya cek kabel dan sambungannya supaya aman saat digunakan,” ujarnya.
Langkah sederhana tersebut menjadi bagian dari upaya pengendalian risiko yang dapat mencegah kerugian lebih besar.
Penjualan Menurun Saat Libur Semester
Karakteristik konsumen yang mayoritas merupakan mahasiswa juga menghadirkan tantangan tersendiri. Ketika masa libur semester tiba, jumlah pembeli dapat menurun secara signifikan karena berkurangnya aktivitas di lingkungan kampus.
Menghadapi kondisi tersebut, pemilik usaha mulai memanfaatkan media sosial untuk promosi sekaligus menjangkau masyarakat sekitar kampus yang tetap beraktivitas selama masa liburan.
Upaya ini dilakukan agar penjualan tidak hanya bergantung pada mahasiswa sebagai pelanggan utama.
Pentingnya Pengelolaan Keuangan
Di tengah berbagai risiko tersebut, biaya tetap seperti sewa lapak dan tagihan listrik tetap harus dibayar setiap bulan, terlepas dari kondisi penjualan.
Karena itu, pengelolaan keuangan menjadi faktor penting bagi keberlangsungan usaha. Kesalahan dalam mengatur arus kas dapat berdampak langsung terhadap kemampuan usaha untuk bertahan.
Kisah penjual Es Kuwut di Universitas Pamulang menunjukkan bahwa menjalankan usaha mikro bukan sekadar soal menjual produk kepada konsumen. Di balik aktivitas sehari-hari, terdapat berbagai risiko yang harus dikelola, mulai dari kerusakan bahan baku, gangguan peralatan, risiko keselamatan kerja, hingga fluktuasi jumlah pelanggan. Meski demikian, melalui diversifikasi produk, pemilihan peralatan yang lebih andal, pengawasan operasional, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar, pelaku UMKM tetap dapat mempertahankan dan mengembangkan usahanya. ***
* Para penulis merupakan Mahasiswa/i Manajemen S1 – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.







