BERITABUANA.CO, JAKARTA – Di tengah konflik Iran-AS-Israel yang tak berujung, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkap ancaman nyata bagi dompet negara dan dompet rakyat. Ketidakpastian geopolitik yang ia sebut seperti “penyakit malaria, pagi sembuh malam kumat lagi” kini berimbas langsung ke neraca energi Indonesia.
Faktanya, ekonomi energi Indonesia sedang dalam posisi defisit besar.
Konsumsi BBM nasional sudah mencapai 1,6 juta barel per hari (bph), sementara lifting minyak dalam negeri hanya 600.000 – 610.000 bph. Artinya, ada lubang 1 juta bph yang wajib ditutup dengan impor. Celakanya, 20-25% dari pasokan impor tersebut harus melewati Selat Hormuz, jalur paling rawan di dunia saat konflik Timur Tengah memanas.
Tekanan kedua datang dari harga. Harga minyak dunia sempat menyentuh USD 106 per barel, jauh di atas asumsi APBN yang hanya USD 70 per barel. Rata-rata Januari-September 2026 saja sudah di kisaran USD 85-90 per barel. Jika tidak ada manuver, subsidi bisa jebol.
“Hampir semua menteri energi di dunia sekarang berpikir bagaimana mengamankan kepentingan domestiknya dulu. Kita harus berpikir sama,” ujar Bahlil dalam acara InTechSea 2026 di Four Seasons Hotel Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Manuver Ekonomi Bebas Aktif
Untuk menekan ongkos impor yang membengkak, pemerintah melakukan diversifikasi pasokan yang lebih murah. Bahlil menyebut Indonesia menganut “mazhab ekonomi bebas aktif”.
“Yang penting barang ada dan murah, itu yang paling penting,” tegasnya.
Dua langkah ekonomi ditempuh:
1. Putar Haluan Impor: Mengalihkan pengadaan minyak mentah dari Timur Tengah yang berisiko tinggi ke negara-negara di Afrika dan Angola yang harganya lebih kompetitif.
2. Komitmen Rusia: Mengamankan komitmen pasokan jangka panjang dari Rusia dengan skema harga yang lebih terjangkau.
Langkah ini bukan soal politik, tapi kalkulasi ekonomi murni untuk menjaga APBN. Tujuannya satu: menjamin harga BBM bersubsidi tidak naik hingga 31 Desember 2026, apapun harga minyak dunia.
“Untuk harga subsidi sampai dengan 31 Desember, berapapun harganya di dunia, tidak akan kita naikkan,” tandas Bahlil.
Dengan strategi ini, pemerintah bertaruh untuk menahan inflasi energi di tengah badai geopolitik yang tidak pasti ujungnya. (Ram)






