BERITABUANA.CO, JAKARTA – Meningkatnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah berimbas pada harga emas yang terus menurun. Meningkatnya permusuhan di Selat Hormuz dan pernyataan seorang pembuat kebijakan moneter AS meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi.
Data yang ada seperti dikutip Selasa (14/7/2026), harga emas turun di bawah US$4.000 per ons setelah jatuh hampir 3 persen pada hari Senin (13/7/2026), penurunan terbesar dalam lebih dari dua minggu.
Harga emas spot turun 0,1 persen menjadi US$3.996,63 per ons pada pukul 7.48 pagi di Singapura. Perak turun 0,3 persen menjadi US$57,50 per ons. Platinum sedikit turun, sementara paladium naik. Indeks Spot Dolar Bloomberg, sebuah indikator mata uang AS, datar setelah mengakhiri sesi sebelumnya dengan kenaikan 0,3 persen.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuntut penggantian 20 persen untuk kargo yang melewati jalur air tersebut setelah pasukan AS memberlakukan kembali blokade angkatan laut ke dan dari pelabuhan Iran. AS juga melancarkan serangan malam ketiga berturut-turut terhadap Republik Islam Iran.
Berkaitan dengan emas, harga energi yang tinggi meningkatkan prospek bahwa Federal Reserve AS mungkin perlu mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama guna memerangi inflasi yang membandel.
Gubernur Fed AS Christopher Waller mengatakan para pembuat kebijakan mungkin perlu menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Para pedagang swap sekarang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 43 persen pada pertemuan Fed bulan Juli, naik dari hampir 40 persen sebelum pernyataannya. Biaya pinjaman yang lebih tinggi merupakan hambatan bagi logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Selain itu, para pedagang akan mengamati penampilan pertama Kevin Warsh di hadapan Kongres AS sebagai ketua Fed pada 14 Juli ini, untuk mendapatkan petunjuk tentang prospek suku bunga bank sentral. Sidang Komite Layanan Keuangan DPR akan didahului oleh angka harga konsumen bulan Juni dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS. (OSC).







