Indonesia Prioritaskan Transformasi Industri Lebih Hijau, Basisnya Tenaga Surya

by
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto. FOTO: Jawa Pos.

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Indonesia memprioritaskan transformasi industri yang lebih hijau dengan basis tenaga surya. Presiden Prabowo Subianto menargetkan peningkatan kapasitas pembangkit listrik energi surya hingga 100 GW sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

“Juga sekaligus mendukung target ambisius 100 persen listrik dari energi terbarukan dalam 10 tahun ke depan,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangannya yang dikutip Jumat (21/8/2026).

Menko Airlangga menjelaskan, sesuai arahan Presiden Prabowo, prioritas pemerintah juga mencakup energi hijau. Khususnya, transformasi menuju industri berbasis tenaga surya, dengan target kapasitas sekitar 100 gigawatt (GW) dalam kurun waktu 2-3 tahun.

Presiden Prabowo Subianto menargetkan peningkatan kapasitas pembangkit listrik energi surya hingga 100 GW sebagai langkah strategis pemerintah guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Juga sekaligus mendukung target ambisius 100 persen listrik dari energi terbarukan dalam 10 tahun ke depan.

Pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) hingga 2034 dengan target 17,1 GW.

Prioritas tahun ini adalah program penggantian pembangkit listrik tenaga diesel. Pemerintah akan mengubah sistem pembangkit listrik di pulau-pulau kecil dari tenaga diesel ke tenaga surya. Program pembangkit listrik tenaga surya itu, adalah kebutuhan nyata bagi Indonesia.

Untuk mewujudkan target tersebut, Indonesia memerlukan kerja sama dari para pemangku kepentingan terkait, termasuk kemitraan strategis dengan negara-negara sahabat seperti Jerman.

“Dibutuhkan banyak teknologi serta barang modal. Peluang ini terbuka bagi partisipasi Jerman, mengingat transformasi ini baru saja diumumkan oleh Presiden beberapa waktu yang lalu,” ujar Airlangga Hartarto.

Airlangga mengatakan Jerman juga merupakan mitra strategis dari Just Energy Transition Partnership (JETP). Indonesia mendapatkan komitmen pendanaan internasional JETP sebesar 21,4 miliar dolar AS (Rp356 triliun–359 triliun) untuk mendukung transisi energi bersih dan dekarbonisasi.

“Indonesia memiliki alokasi dana sekitar 21 miliar dolar AS, namun perkembangannya agak lambat. Sejauh ini baru sekitar 4 miliar dolar AS yang telah dimanfaatkan. Jadi, kita perlu bergerak lebih cepat,” kata Airlangga.

Menteri Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman, Reem Alabali Radovan mengatakan hal ini senada dengan komitmen kedlua negara untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030.

Salah satu bidang yang memungkinkan hal ini, energi terbarukan. Perusahaan-perusahaan Jerman membawa serta pengalaman dan teknologi yang luas,.

“Kami juga memiliki berbagai proyek yang melibatkan kolaborasi antara kalangan akademisi, sektor publik, dan sektor swasta. Jadi, saya rasa ini adalah langkah yang tepat untuk bersama-sama mengembangkan solusi yang lebih berkelanjutan demi masa depan,” urai Reem Alabali Radovan. (OSC).