BERITABUANA.CO, JAKARTA – Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor Indonesia secara kumulatif dari Januari-Juni 2026 mencapai 140,81 miliar dolar Amerika Serikat. Andil utama peningkatan nilai ekspor disumbang oleh sektor industri pengolahan 6,18 persen. China senantiasa menduduki posisi pertama (25,58 persen) dengan nilai 34,56 miliar dolar AS.
“Sepanjang periode Januari-Juni 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai 140,81 miliar dolar AS atau meningkat 4,13 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 (year-on-year/yoy),” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Kepada pers, Ateng Hartono mengatakan andil utama peningkatan nilai ekspor disumbang oleh sektor industri pengolahan sebesar 6,18 persen.
Pada Januari-Juni 2026, nilai ekspor komoditas nonmigas unggulan meningkat, seperti minyak sawit mentah (CPO) da turunannya dengan share nilai sebesar 9,12 persen; dan batu bara dengan share nilai 8,95 persen.
Kalau dilihat dari negara tujuan utama ekspor Indonesia pada periode Januari-Juni 2026, China masih menduduki posisi pertama (25,58 persen) dengan nilai 34,56 miliar dolar AS.
Golongan barang nonmigas yang menjadi favorit untuk diekspor ke Negeri Tirai Bambu itu, adalah besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral.
Setelah China, berikutnya Amerika Serikat menjadi pangsa ekspor nonmigas kedua (11,76 persen) dengan nilai 15,82 dolar AS.
Untuk ini, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorisnya menjadi produk unggulan Indonesia ke Negeri Paman Sam sepanjang periode ini.
Lalu, India menduduki posisi ketiga (6,87 persen) dengan nilai ekspor nonmigas sebesar 9,25 miliar dolar AS. Produk favorit antara lain bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan/nabati, dan mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya.
Untuk nilai impor Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 137,24 miliar dolar AS atau meningkat 18,69 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Andil utama peningkatan nilai impor tersebut disumbang oleh impor bahan baku/penolong sebesar 13,15 persen.
Alhasil dengan kinerja demikian, neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus senilai 3,58 miliar dolar AS pada periode Januari-Juni 2026.
Untuk periode Juni 2026, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 450 juta dolar AS. Rinciannya, nilai ekspor sebesar 25,46 miliar dolar AS, sedangkan impor tercatat senilai 25,91 miliar dolar Amerika Serikat. E







