Stok Beras Melimpah, Bulog Tunggu Perintah Presiden Untuk Masuk Pasar Ekspor

by
Stok beras di Gudang Bulog. (Istimewa)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Perum Bulog siap mengekspor beras dengan harga bersaing. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan kesiapannya menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto itu, demi menjaga kesejahteraan petani sekaligus meningkatkan perekonomian nasional. Sampai pertengahan Mei ini, stok beras Indonesia sudah mencapai 5,32 juta ton.

Dalam keterangannya kepada pers, seperti dikutip Selasa (111/5/2026), Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan siap menjalankan perintah untuk mengekspor beras. “Begitu ada perintah, kami siap melaksanakan sesuai dengan arahan Bapak Presiden.”

Untuk itu, Dirut Bulog mengaku siap bergerak cepat dalam menjalankan penugasan pemerintah, termasuk dalam pengelolaan cadangan beras pemerintah hingga distribusi pangan nasional. Karena itu, setiap arahan yang diberikan akan segera dieksekusi.

Meski demikian, Rizal mengaku hingga saat ini Bulog belum mengetahui secara pasti jumlah beras yang nantinya akan disiapkan untuk kebutuhan ekspor. Menurut dia, komunikasi terkait permintaan antarnegara dilakukan langsung pada level kepala negara.

Hingga Sabtu lalu, 16 Mei 2026, Perum Bulog mengelola 5,32 juta ton stok cadangan beras pemerintah yang tersimpan di seluruh gudang perusahaan BUMN pangan tersebut.

Menjajaki kemungkinan ekspor beras, Bulog sedang dalam tahap negosiasi harga dengan negara Malaysia. Rencana ekspor ke negara tetangga mencapai 200 ribu ton dengan nilai transaksi diperkirakan mencapai sekitar Rp2 triliun.

Pihak Malaysia mengajukan aharga di bawah Rp10.000 per kilogram (kg), sementara Bulog menginginkan harga yang lebih tinggi sesuai kualitas beras yang ditawarkan.

Harga yang diajukan Indonesia berada pada kisaran Rp13.000 per kg hingga Rp14.000 per kg karena beras yang ditawarkan masuk kategori premium.

Sebelumnya, dalam peluncuran 1.061 gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Presiden Prabowo Subianto sempat menyinggung langsung kesiapan Bulog menghadapi peluang ekspor beras Indonesia.

Di tengah pidatonya, Presiden memanggil Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani yang berada di bawah panggung. Prabowo mengingatkan agar beras Indonesia tidak dijual terlalu murah saat masuk pasar ekspor.

Kepada Bulog Prabowo berpesan agar tetap menjaga nilai jual beras Indonesia demi kepentingan petani dalam negeri. “Jangan jual terlalu murah ya. Jangan juga ngetok (menjual mahal), tetapi jangan jual terlalu murah.”

Presiden menegaskan kondisi pangan global masih penuh ketidakpastian sehingga Indonesia harus tetap berhati-hati menjaga cadangan beras nasional sambil membuka peluang ekspor ke negara lain.

“Ingat, krisis ini bisa lama. Yang utama kita amankan rakyat kita dulu,” ujar Prabowo, yang kembali dijawab siap oleh Direktur Utama Bulog.

Terdapat sejumlah negara mulai menjalin komunikasi dengan Indonesia untuk membeli beras di tengah situasi pangan global yang semakin tidak menentu. Permintaan datang dari berbagai negara, termasuk negara-negara tetangga di kawasan.

Beberapa negara yang sebelumnya merasa lebih kuat dalam urusan pangan kini justru mulai membuka komunikasi dengan Indonesia untuk meminta pasokan beras.

Selain itu, kata Presiden, terdapat beberapa negara yang masih terlihat berhati-hati dan belum secara terbuka menyampaikan permintaan karena masih mencoba mencari pasokan dari negara lain.

Namun situasi berubah setelah India memutuskan menghentikan ekspor beras, jagung, dan gandum demi menjaga kebutuhan pangan domestiknya sendiri. Langkah itu kemudian diikuti Bangladesh yang juga menutup keran ekspor pangan.

Meski demikian, Prabowo menegaskan Indonesia tetap akan membantu negara lain yang membutuhkan pangan. Namun ia meminta agar harga ekspor tetap menguntungkan petani dalam negeri dan jangan sampai merugikan petani. (OSC).