Ancaman Krisis Pangan Menguat, Sadarestuwati: Prioritaskan Perlindungan Petani

by
Anggota Komisi VI DPR RI Sadarestuwati (Foto : Gesuri)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Ancaman terhadap ketahanan pangan nasional dinilai semakin nyata di tengah tekanan ekonomi dan perubahan iklim ekstrem yang mulai dirasakan petani di berbagai daerah.

Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Sadarestuwati, memperingatkan pemerintah agar segera mengambil langkah konkret untuk melindungi sektor pertanian sebelum dampaknya meluas terhadap ekonomi masyarakat desa.

Peringatan itu disampaikan Sadarestuwati saat menghadiri Sarasehan Ketahanan Pangan di Aula Bale Tani, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, pada Minggu (10/5/2026).

Dalam forum tersebut, ia menilai sektor pertanian nasional sedang berada dalam situasi darurat akibat kombinasi tekanan biaya produksi dan ketidakpastian cuaca.

Menurut politikus yang akrab disapa Mbak Estu itu, lonjakan harga pupuk, biaya logistik, dan operasional pertanian semakin membebani petani di tengah ancaman kemarau panjang akibat fenomena iklim ekstrem.

“Kondisinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ada tekanan ekonomi yang luar biasa, ditambah lagi dengan perubahan iklim yang sangat sulit ditebak. Kita harus jujur bahwa tekanan ekonomi ini sangat dirasakan di tingkat akar rumput,” kata Sadarestuwati lewat keterangan tertulis yang diterima Senin(11/5/2025).

Ia menilai pemerintah pusat dan daerah perlu segera menetapkan kebijakan perlindungan petani sebagai prioritas utama. Tanpa intervensi yang cepat dan terukur, kata dia, ketahanan pangan nasional berpotensi menghadapi krisis akibat dampak domino instabilitas ekonomi global dan gangguan iklim.

Sadarestuwati juga menyinggung prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino. Menurut dia, kondisi tersebut dapat memperburuk produktivitas pertanian jika tidak diantisipasi sejak dini.

“Harga pupuk dan operasional pertanian tidaklah murah. Jika beban ini ditambah dengan kemarau panjang, maka ketahanan pangan kita menjadi taruhannya. Kita harus bergerak cepat sebelum terlambat,” ujarnya.

Selain persoalan biaya produksi, ia menyoroti pentingnya menjaga sumber daya air dan kelestarian hutan sebagai penopang utama sektor agraria. Menurutnya, kerusakan lingkungan akan berdampak langsung terhadap keberlangsungan pertanian dan ekonomi masyarakat desa.

“Utamanya kita harus bergotong royong menyelamatkan sumber air kita. Logikanya sederhana, kalau air habis, pertanian mati. Dan jika pertanian mati, maka ekonomi masyarakat desa akan runtuh,” katanya.

Sadarestuwati juga mengkritik praktik penggundulan hutan dan alih fungsi lahan yang dinilai mengabaikan aspek konservasi. Ia mengingatkan pembangunan ekonomi, termasuk sektor pariwisata, tidak boleh merusak fungsi ekologis kawasan hutan.

“Jangan hanya mau mengambil hasilnya saja tapi justru merusak akarnya. Hutan jangan digundul atau ditebang sembarangan. Menjaga hutan bukan cuma soal lingkungan, tapi ini menyangkut kelangsungan hidup dan ekonomi anak cucu kita ke depannya,” ujar dia. (Asim)