Harga Plastik Naik, Pemerintah Rencanakan Penyesuaian HET MinyaKita

by
Minyak goreng merek MinyaKita di jual di toko/warung sembako (Ilustrasi/Foto: Ist)

BERITABUANA.CO, JAKARTA – Pemerintah merencanakan penyesuaian harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng kemasan merek MinyaKita. Biaya produksi, antara lain karena kenaikan harga plastik, menjadi salah satu alasan mengerek harga penjualan untuk rakyat tersebut.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkap rencana penyesuaian harga merek dagang minyak goreng kemasan sederhana milik Kementerian Perdagangan itu, kepada pers, di Sarinah, Jakarta, Ahad (10/5/2026).

Mendag Budi Santoso masih melakukan pembahasan revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) mengenai harga jual MinyaKita. Apalagi, selain mempertimbangkan soal biaya produksi yang sudah naik, juga karena sudah tiga tahun terakhir ini, tidak ada penyesuaian harga.

Budi melihat ada beberapa faktor penyesuaian HET MinyaKita. Kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) hingga biaya distribusi menjadi pertimbangan penyesuaian HET.

Mendag Budi Santoso belum mengungkap kapan regulasi terbaru yang mengatur HET MinyaKita itu terbit. “Belum tahu, masih dibahas.”

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan penyebab kenaikan harga minyak goreng merek MinyaKita. Menurut dia, beban biaya kemasan dari plastik menjadi penyebab utamanya.

Dalam Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga MinyaKita sebesar Rp15.900 per liter, sedikit lebih tinggi dari harga eceran tertinggi Rp15.700 per liter. Distribusi jadi penyebab kenaikan harga di wilayah Papua.

“Harga minyak goreng MinyaKita di SP2KP Rp15.900 dari Rp15.700 HET-nya. Kalau minyak goreng premium itu terutama memang yang daerah seperti di Papua, karena memang distribusinya,” kata Budi, ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Untuk wilayah lainnya disebut tidak ada masalah dari bahan baku maupun produksi. Ada kenaikan biaya pengemasan dari plastik yang berpengaruh pada harga jual MinyaKita.

Pihak Kemendag sudah komunikasi dengan para produsen yang pada prinsipnya stok barang ada, tidak ada masalah. Jadi, ketersediaan pasokan ada, memang salah satu imbas kenaikan itu karena harga plastik.”

Proses pembuatan plastik di industri tetap berjalan dengan upaya pemenuhan bahan bakunya dari impor. Harapannya masalah harga plastik bisa segera selesai. (OSC).